Walaupun Ada MRT, Penjualan Mobil Diyakini Tetap Tinggi

Penggalan Kisah Lain Monorel dan MRT (4)

Walaupun Ada MRT, Penjualan Mobil Diyakini Tetap Tinggi

Hidayat Setiaji - detikFinance
Rabu, 23 Okt 2013 16:05 WIB
Walaupun Ada MRT, Penjualan Mobil Diyakini Tetap Tinggi
Foto: Detikcom
Jakarta - Mass rapid transit (MRT) dan monorel diharapkan menjadi transportasi publik yang andal bagi warga Jakarta. Dengan demikian, penggunaan kendaraan pribadi bisa berkurang dan berbanding lurus dengan berkurangnya kemacetan.
 
Tapi bagaimana industri otomotif menyikapi kehadiran moda transportasi massal itu? Johnny Darmawan, Ketua III Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) bilang dirinya optimistis bahwa industri otomotif bisa tetap tumbuh.

“Apakah mobil akan tersaingi? Di negara-negara maju mobil tetap tidak berkurang. Ada faktor gengsi dan privasi sehingga orang tetap ingin punya. Bahwa nanti ada dampaknya, kita lihat lagi,” kata Johnny.
 
Industri otomotif di Indonesia, lanjut Johnny, masih jauh dari jenuh. Tahun ini, Gaikindo memproyeksikan penjualan mobil sebanyak 1,1 juta unit. Jika target tersebut tercapai, maka sudah dua tahun berturut-turut penjualan mobil di Indonesia menembus angka 1 juta unit.
 
“Selama MRT belum proper, selama masih ada gengsi, tidak mungkin tidak beli mobil. Mobil itu mau diapain juga tidak bakal kurang,” ujar Johnny, yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur Toyota Astra Motor ini.
 
Meski demikian, Gaikindo mendukung adanya transportasi publik yang andal bagi masyarakat. “Kita perlu hidupkan MRT maupun mobil pribadi. Salah satu penyebab kemacetan adalah tidak adanya transportasi publik yang memadai. MRT bisa jadi solusi, ada pilihan,” tutur Johnny.
 
Di beberapa negara, Johnny menilai transportasi publik sudah sangat baik sehingga memang ada pergeseran perilaku. Di Singapura warganya tidak mau naik mobil pribadi karena di tengah kota macet. Di Jepang juga begitu.
 
Namun di Indonesia, belum ada transportasi publik yang memadai sehingga mobil tetap menjadi pilihan masyarakat. “Menurut saya, mobil itu solusi selagi public transporation belum memadai. Tapi memang public transportation harus dibenahi,” katanya.
 
Danang Parikesit, Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia, juga berpendapat kehadiran transportasi publik seperti MRT atau monorel tidak akan terlalu mempengaruhi industri otomotif. Penjualan mobil diperkirakan tidak akan turun signifikan meski sudah ada MRT atau monorel.
 
“Saya rasa korelasi antara penjualan mobil dengan transportasi publik cukup rendah. Faktor yang akan mengurangi minat masyarakat untuk memiliki mobil pribadi adalah biaya sehari-hari, seperti BBM (bahan bakar minyak) atau parkir,” kata Danang.

Oleh karena itu, yang lebih efektif untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi adalah menaikkan harga BBM atau menaikkan tarif parkir.

(DES/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads