Sekjen Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Muhammad Rusdi menegaskan buruh bergerak atas inisiatif sendiri dan hanya bermodal ucapan bismillah dan pasang badan.
"Ini bicara soal idealisme. Kita sudah siap pasang badan. Kita hanya modal bismillah dan pasang badan dan kita menjadi leading sektoril untuk memperjuangkan nasib buruh. Ada sebuah kesadaran kebangsaan yang terbentuk," kata Rusdi dalam diskusi 'Polemik' soal Upah Minimum Provinsi (UMP) di rumah makan kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (2/11/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada yang menggerakan? Kalau orang turun ke aksi itu katanya ada yang bayar Rp 200.000/hari/orang. Kalau yang demo 1 juta orang dikali angka itu (Rp 200.000) per hari itu berapa biaya yang ia harus keluarkan. Kalau demonya berhari-hari sudah berapa dan siapa yang mau bayar? Mereka (buruh yang dibayar) minta aksi paling banter 2 jam dan nggak tau isunya apa. Tetapi kita rela berjam-jam bahkan menginap dan siap berjuang dan mati apa ini artinya dibayar," imbuhnya.
Ia mengklaim, anggota buruh yang tergabung saat ini tidak hanya datang dari golongan marjinal, tetapi kalangan berpendidikan juga ikut serta. Alasannya adalah karena persamaan misi untuk menyejahterakan masyarakat Indonesia dan memajukan negara Indonesia.
"Kelompok buruh hari ini adalah profesional yang lahir tidak hanya dari kelompok marjinal tetapi juga banyak aktivis kampus dan banyak yang juga yang bergelar master, doktor, dan profesor. Mereka ikut gabung karena sudah sadar. Kita ingin menyejahterakan rakyat dan negara ini harus bangkit serta melawan penjajahan di era modern," cetusnya.
(wij/dnl)











































