Dari Medan Tempur ke Kedai Kopi

Habis Perang Terbitlah Wirausaha (2)

Dari Medan Tempur ke Kedai Kopi

- detikFinance
Senin, 11 Nov 2013 12:05 WIB
Dari Medan Tempur ke Kedai Kopi
AFP
Jakarta - Selain menjajakan kopi, Starbucks rupanya mempunyai program bagi veteran perang di Amerika Serikat. Pada pekan lalu perusahaan ini merilis rencana merekrut setidaknya 10 ribu veteran maupun pasangan anggota militer yang masih berdinas, untuk bergabung dengan mereka.
Β 
Lebih dari sejuta personel militer AS sedang memasuki masa transisi jadi warga sipil mulai tahun depan. Bagi Starbucks, ini adalah peluang.

β€œSaya melihat peluang di depan kami, value yang sedang kami ciptakan terkait dengan value yang membuat kami jadi seperti sekarang,” kata CEO Starbucks, Howard Schultz.

Starbucks menggelar program mentoring khusus bagi veteran perang bernama Armed Forces Network (AFN). Program ini mendukung transisi militer-sipil dengan memastikan rekrutan baru Starbucks mendapatkan informasi dan sumber daya yang dibutuhkan untuk sukses dalam bisnisnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

β€œVeteran dan pasangan tentara adalah warga yang berharga dan bekerja sama dengan perusahaan seperti Starbucks memberikan mereka peluang untuk memiliki karir jangka panjang,” kata Marjorie James, Direktur Eksekutif Rekrut Pahlawan Amerika, akhir pekan lalu.

Starbucks juga mendirikan kafe komunitas militer. Perusahaan ini berencana membuka lima kafe komunitas di pangkalan militer gabungan AS mulai tahun depan. Sebagian keuntungan transaksi di kafe-kafe itu akan disumbangkan bagi organisasi nirlaba yang membantu pelayanan anggota militer.

Sementara itu Asosiasi Franchise Internasional (IFA) bekerjasama dengan Small Business Administration untuk meningkatkan peluang bagi veteran perang untuk berwirausaha. Wujudnya berupa pelatihan bagi veteran atau keluarga mereka.

β€œHubungan ini akan mencapai tujuan kami untuk membantu veteran mempelajari banyak peluang yang tersedia bagi mereka dalam industri waralaba,” kata Presiden IFA, Steve Caldeira.
Β 
Inisiatif yang kurang lebih sama digelar Universitas Syracuse di New York bagi veteran yang mengalami cacat tubuh akibat pertempuran. Perguruan tinggi ini menggelar pelatihan kewirausahaan dan manajemen bisnis bagi veteran cacat yang persentasenya mencapai 30 persen dari 2,5 juta veteran perang pasca serangan teror 11 September 2001.

Kamp yang mereka gelar ditujukan untuk membuka peluang ekonomi bagi veteran dengan mengembangkan kompetensi mereka, meski tubuh fisik mereka tak lagi sempurna. Program ini kemudian diikuti oleh sejumlah perguruan tinggi lain di AS, seperti Texas A&M, Universitas Purdue, UCLA, Universitas Connecticut, Universitas Negeri Louisiana, Universitas Negeri Florida, dan Universitas Cornell.

Sejak 2007, alumni program di Universitas Syracuse sudah lebih dari 700 orang. Dari tangan mereka telah lahir lebih dari 180 bisnis baru dan 670 lapangan kerja. Tak heran kalau program ini mendapat penghargaan dari Angkatan Bersenjata AS dan Majalah Inc sebagai program wirausaha terbaik.

(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads