Sofjan Wanandi: WTO Itu Cuma Bikin Macet, Tak Ada Manfaatnya

Sofjan Wanandi: WTO Itu Cuma Bikin Macet, Tak Ada Manfaatnya

Maikel Jefriando - detikFinance
Selasa, 12 Nov 2013 13:30 WIB
Sofjan Wanandi: WTO Itu Cuma Bikin Macet, Tak Ada Manfaatnya
Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi termasuk pengusaha yang menganggap pertemuan Konferensi Tingkat Menteri (KTM) World Trade Organization (WTO) di Nusa Dua, Bali mendatang tak ada manfaat buat Indonesia. Konferensi yang akan digelar 3-6 Desember 2013 di Nusa Dua, Bali akan dihadiri oleh para menteri negara anggota WTO.

"Bagaimana kita melakukan capaian dari yang kita inginkan, apa kita bisa melihat WTO sebagai manfaat? Saya nggak," ungkap Sofjan Wanandi saat diskusi terkait persiapan KTM WTO ke-9, di auditorium Kemendag, Jakarta, Selasa (12/11/2013)

Bahkan menurut Sofjan, acara-acara bertarif internasional seperti KTM WTO ke-9 akan membuat kemacetan terutama di kawasan Nusa Dua, karena tingginya arus kunjungan ke wilayah tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"WTO itu cuma bikin macet. Nggak ada manfaatnya, kalau Bali itu nggak capai apa-apa kita ikut macetkan saja. Nggak ada gunanya," katanya.

Rencananya dalam KTM WTO ke-9, ada tiga isu utama yang diangkat dalam pertemuan ini adalah pertanian, fasilitas perdagangan, dan pembangunan. Menurut Sofjan tidak ada arah yang jelas untuk memperjuangkan kepentingan nasional. Sofjan pesimis sebaiknya pemerintah tidak berharap terlalu banyak dari pertemuan WTO.

"Seharusnya tiap WTO harus kita liat segi kepentingan nasional. Apa untung kita jadi tuan rumah. Kadang-kadang kita, saya melihat nggak tahu sebagai tuan rumah nggak tahu inginnya terus hasilnya seperti apa," jelasnya.

Ia menambahkan Indonesia terlalu terbuai dengan pujian-pujian asing. Apalagi pujian tersebut disampaikan dalam pertemuan-pertemuan Internasional.

"Kita terlalu senang dipuji. Dari lembaga-lembaga Internasional puji Indonesia. Negara - negara lain puji. Terus bangga. Mc Kency sebut kita nanti 10 besar di dunia. Itu buat apa," ungkap Sofjan saat diskusi terkait persiapan KTM WTO 9, di auditorium Kemendag, Jakarta, Selasa (12/11/2013)

Akibatnya, menurut Sofjan banyak pekerjaan rumah yang tidak terselesaikan. Perekonomian hanya berjalan lambat. Kemudian saat pertumbuhan mencapai di atas 6%, transaksi berjalan tercatat defisit.

"Kita terlalu banyak dipuji tapi kita tidak mengerjakan pekerjaan rumah kita. Jadi kita harus realistis, di mana kemampuan kita, besok apa yang harus kita lakukan. Apa insentif dan disinsentif yang harusnya dikeluarkan," paparnya.

Ia mengaku tidak percaya terhadap pihak-pihak yang memuji Indonesia. Buktinya dalam beberapa pertemuan Internasional, tidak ada yang benar akan memihak kepada Indonesia. Sebab pihak itu hanya mencari untung untuk negara dan kelompoknya.

"Tak ada satupun mereka yang pas untuk membantu kita, itu saya nggak percaya. Dia cuma melihat bagaimana bisa untung," sebutnya

Sementara Indonesia kemudian hanya bisa bertahan dan tak bisa menunjukan kepentingan nasional kehadapan Internasional. Sofjan mengaku hal itu tercermin dari nasib para industri di Indonesia yang harus berjuang melawan serbuan produk impor.

"Kita harus defensif itu. Terutama untuk industri yang seringkali saya hadapi. Jadi dia berani head to head karena mereka tahu kondisi kita. Kita cuma merasa lebih hebat, padahal kita nggak maksimal," kata Sofjan.

Sementara itu, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Darmin Nasution mengatakan sulit untuk memperjuangkan kepentingan nasional. Sebab, ada banyak kepentingan dari negara lain yang juga akan diperjuangkan. Walaupun sebenarnya tujuan dari WTO adalah keadilan perdagangan.

"Jangan kemudian yang satu subsidi pangan besar-besaran yang lain bingung karena ekspornya nggak ada. Jadi ada titik keseimbangan," sebut Darmin pada kesempatan yang sama.

Apalagi tiga isu yang diangkat sangat umum. Sehingga akan kesulitan untuk Indonesia memperjuangkan komoditas tertentu, harus tetap ada jalan tengah yang sedikitnya menguntungkan Indonesia.

"Karena isunya memang sulit. Dibelakangnya ada politik, nasional dan banyak. Sehingga diupayakan tetap mencari jalan supaya ada kemajuan. Tapi kita pasti punya teman yang kepentinganya sama. Jadi ini semua urusan diplomasi," papar Darmin.

(mkj/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads