Pengusaha perkebunan mengaku sulit membangun dan mengembangkan bisnis perkebunan di Indonesia. Salah satu yang menjadi kendala adalah proses pembebasan lahan, yang memicu konflik antara pengusaha dan warga lokal.
"Lahan perkebunan juga banyak yang mengalami konflik antara masyarakat sekitar dan perusahaan," ungkap Direktur Utama PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) Didiek Hadjar Goenadi saat Konferensi Pers GPI Conex, Forum Pertemuan Internasional Bagi Seluruh Stakeholder Industri Perkebunan di Aula Kantor Kementerian BUMN, Lantai 21 Jakarta, Kamis (21/11/2013).
Tercatat selama tahun 2012 ada 541 kasus sengketa lahan perkebunan. Dari jumlah itu, sebanyak 74% adalah konflik penguasaan lahan yang melibatkan pengusaha dan warga sekitar. Tetapi baru 10% kasus yang bisa diselesaikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sehingga tidak heran bila dihitung rata-rata luasan kepemilikan lahan dan produktivitas rata-rata produk perkebunan di Indonesia masih kalah dibandingkan negara tetangga sebut saja Malaysia, Thailand dan Vietnam.
"Produktivitas rata-rata sawit di Indonesia hanya 3,6 ton/hektar/tahun dan karet hanya 930 Kg karet kering/hektar/tahun. Di Malaysia produktivitas sawit mereka bisa 4,7 ton/hektar/tahun, karet 1.450 Kg karet kering/hektar/tahun. Kalau karet di Thailand lebih besar lagi bisa 1.705 Kg karet kering/ hektar/tahun. Produksi rata-rata kopi kita hanya 500-700 Kg biji kopi kering/hektar/tahun, Vietnam bisa 2.000 Kg biji kopi kering/kg/tahun," sebutnya.
(wij/hen)










































