Kerjasama melibatkan Royal Friesland Campina melalui PT Frisian Flag Indonesia dengan PT Perkebunan Nusantara VIII dan Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU).
"Kerjasama penggunaan lahan, dimana lahan ini kita siapkan untuk kandang komunal dan penyediaan pakan di Lembang. Berapa luasnya belum dipastikan. Kapasitas 70 sapi nanti yang diletakan di kandang komunal," kata Direktur Utama PTPN VIII Dadi Sunardi saat penandatangan acara di Pabrik Susu Frisian Flag Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (22/11/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Program yang diberi nama Sustainability Dairy Development sebenarnya telah diluncurkan pada bulan Juli tahun 2013. Program ini ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan lebih dari 10.000 peternak sapi perah lokal di wilayah Pengalengan dan Lembang, Bandung, Jawa Barat.
Pembangunan pertanian dan peternakan di Indonesia merupakan bagian dari strategi dan prioritas pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan daerah pedesaan. Dengan menyediakan lahan untuk program ini, target swasembada susu Indonesia di tahun 2025 bisa tercapai.
Belum diberikan penjelasan detil berapa hektar lahan PTPN VIII yang akan digunakan Frisian Flag untuk mengembangkan program ini.
"Nanti kita lihat, potensi ada tetapi ada hitungannya. Di sana kita punya 5 kebun dengan rata-rata luas areal 1.200 hektar. Sistemnya ada bisnis dari hasil. Kesepakatan setiap tahun perpanjang," katanya.
Sementara itu Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan menyambut baik kerjasama ini. Ia menyatakan BUMN siap memberikan fasilitas pendukung seperti lahan untuk mengembangkan dan meningkatkan produktivitas susu di Indonesia.
"Karena ini adalah dan rencana saya untuk membuat kandang komunal di desa. Jadi petani mendapatkan lahan yang efisien dan akan meningkatkan produk susu yang baik dan kamu (Frisian Flag) adalah yang pertama (kerjasama dengan BUMN) di Indonesia," cetusnya.
Saat ini 70% kebutuhan susu di Indonesia masih diimpor dari berbagai negara. Produktivitas peternak sapi perah di Indonesia masih rendah karena belum dikelola secara maksimal.
(wij/hen)











































