Ekonomi AS Membaik, BI Antisipasi Larinya Dana Asing

Ekonomi AS Membaik, BI Antisipasi Larinya Dana Asing

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Selasa, 26 Nov 2013 11:30 WIB
Ekonomi AS Membaik, BI Antisipasi Larinya Dana Asing
Jakarta -

Perekonomian Amerika Serikat menunjukkan tren perbaikan. Hal ini bakal memicu pengurangan kebijakan stimulus atau tapering off yang dilakukan bank sentral AS, The Fed.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara menjelaskan bila kebijakan stimulus dihentikan, maka berdampak terhadap keluarnya aliran modal asing dari negara berkembang seperti Indonesia dan kembali ke AS yang kondisi ekonominya membaik. Bila kondisi ini dibiarkan, bakal menimbulkan guncangan di pasar keuangan Indonesia, seperti pasar modal.

"Stimulus itu semacam doping. Kalau ekonomi membaik itu diberhentikan. Kita harus siap. Caranya kita benahi current account deficit bukan berarti harus surplus. Surplus itu sulit. Kita benahi di level yang dapat ditolerir," ucap Mirza Mirza saat diskusi Indef di Hotel JW Luwansa, Jakarta, Selasa (26/11/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penguatan fundamental ekonomi Indonesia menurutnya, bisa melindungi dari dampak atau guncangan keluarnya aliran modal asing akibat rencana penghentian kebijakan stimulus.

Langkah pertama adalah menurunkan defisit neraca perdagangan seperti mengerem atau mengurangi laju impor BBM. Selain itu, pemerintah mendorong kebijakan pengurangan penyaluran kredit untuk tujuan impor dan memperbesar reasuransi di dalam negeri agar perusahaan asuransi tidak melakukan penjaminan di luar negeri.

"Curent account deficit (defisit neraca berjalan). Belum di bawah 3% dari PDB. Impor sementara dikurangi. Kredit untuk impor dikurangi sementara waktu. Impor yang kurang produktif dikurangi," jelasnya.

Sementara BI bisa berperan melakukan berbagai langkah memperkuat kondisi fundamental ekonomi. Seperti kebijakan suku bunga (BI Rate) hingga pengetatan uang muda kredit perumahan.

"Current account deficit harus dipastikan. BI nggak harus dengan suku bunga. Kita kombinasikan dengan kebijakan kurs, LDR, LTV," sebutnya.

Seperti diketahui, stimulus yang dilakukan Federal Reserve (The Fed) adalah membeli surat-surat utang dengan jumlah triliunan rupiah per bulan dalam denominasi dolar AS. Kebijakan ini membuat dunia dibanjiri dolar.

Bila kebijakan ini dikurangi, maka arus dolar akan berkurang, termasuk di Indonesia. Akhirnya, rupiah akan melemah. Wacana pengurangan stimulus sudah membuat asing menarik dananya dari negara berkembang termasuk Indonesia saat ini.

(hen/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads