Tetapi untuk mendapatkan sinyal ponsel di Desa Tabla Nusu, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, itu sungguh membutuhkan perjuangan. Satu-satunya operator telepon seluler yang melayani kawasan itu adalah Telkomsel.
Alhasil, pengguna operator seluler yang lain hanya punya dua pilihan: hidup tanpa telepon seluler, atau beralih ke Telkomsel. Masalahnya, tak ada penjual kartu perdana Telkomsel di desa itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi dekat bagi mereka ternyata tak sedekat sebenarnya. Jaraknya sekitar 4 kilometer. Perjalanannya harus melintasi jalan yang mendaki ke bukit, menurun, lalu menelusuri jalan tanah, dengan pemandangan tebing gunung di satu sisi dan laut di sisi lainnya. Untunglah ada ojek.
Setelah kartu tersedia, ada masalah lain. Spot-spot yang memiliki sinyal ternyata tertentu pula.
Satu-satunya spot sinyal di Resor Suwae adalah sebatang pohon kelapa yang tumbuh di dekat bibir pantai. Itu pun tak stabil. Kadang-kadang ada, kadang-kadang menghilang. Melangkah lebih dari 2 meter, sinyal langsung lenyap. Jangan harapkan ada koneksi Internet.
Meski begitu, pada kesempatan-kesempatan rehat, ke situlah para jurnalis maupun staf World Wild Fund (WWF) yang mengikuti pelatihan tentang lingkungan hidup selama dua hari di resor itu, berkerumun untuk mencari peruntungan dalam berkomunikasi.
Maksudnya, kalau beruntung, sinyal yang byar pet itu bisa untuk berkirim pesan. Syukur-syukur bisa untuk melakukan panggilan telepon atau berkirim dan menerima e-mail, walaupun lebih sering gagalnya.
Masyarakat desa ternyata mempunyai spot yang lain. Salah satunya adalah di bibir telaga Dukumbro yang terdapat di selatan desa. Di sinilah warga yang ingin berkomunikasi berkumpul pada siang atau malam hari. Sambil mengobrol dan minum kopi, spot sinyal itu jadi tempat kongkow juga.
Penetrasi Telkomsel memang mencapai 97% wilayah Papua. Per Oktober lalu, pelanggannya telah mencapai 1,7 juta lebih dengan lebih dari 250 Base Transceiver Station (BTS). Tapi tak semua BTS memberikan pelayanan yang memuaskan.
Kondisi geografis dan ketersediaan bahan bakar membuat ada saja hambatan dalam berkomunikasi. Contohnya di Desa Demta, Distrik Demta, Kabupaten Jayapura, ada satu BTS yang hanya bisa beroperasi mulai pukul 18.00 WIT sampai 06.00 WIT.
Soalnya, listrik dari pembangkit diesel milik PLN hanya beroperasi pada periode waktu itu. "Kalau tak menyala, ya kami ini tak bisa berkomunikasi dengan handphone," tutur Charles Wapumilena, penduduk Demta, kepada detikFinance, kemarin.
(DES/dnl)










































