Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2014, belanja negara ditetapkan sebesar Rp 1.842,5 triliun, naik Rp 116,3 triliun atau 6,7 persen dibandingkan APBN-P 2013. Jumlah tersebut dibagi dua yaitu belanja pemerintah pusat Rp 1.249,9 triliun dan transfer ke daerah Rp 592,6 triliun.
Tapi tanda tanya yang muncul adalah mampukah pemerintah mencapai target belanja pada tahun politik 2014? Ahmad Erani Yustika, direktur eksekutif Indef, adalah salah seorang yang meragukannya.
Erani memperkirakan pemerintah akan sulit mencapai target belanja negara 2014 karena ada peristiwa politik besar yaitu Pemilu. “Tahun depan mulai April sampai Oktober, arus politik begitu kencang. Ini membuat pemerintah akan sulit berfokus untuk melaksanakan APBN, terutama di kementerian yang dipimpin oleh menteri dari partai politik,” tegas Erani.
Para menteri tersebut, lanjut Erani, tahun depan akan semakin intens melaksanakan tugas-tugas politiknya. Entah itu menjadi juru kampanye, calon legislatif, atau bahkan calon presiden. “Mereka akan sulit untuk fokus dengan tugas-tugas mengamankan program yang sudah didesain dalam APBN,” ujarnya, di Jakarta kemarin.
Selain itu, tambah Erani, pola penyerapan anggaran diperkirakan belum berubah yaitu baru dikerjakan menjelang akhir tahun. Meski pemerintah ingin penyerapan anggaran yang merata pada setiap kuartal, tetapi hal ini mungkin masih sulit terwujud.
“Masih ada hambatan dalam pembebasan lahan, perizinan proyek, proses birokrasi, dan sebagainya. Ini biasanya terjadi untuk proyek-proyek infrastruktur. Akibatnya, penyerapan anggaran juga masih mengalami tantangan,” kata Erani, yang juga merupakan guru besar ekonomi Universitas Brawijaya (Malang).
Tapi Presiden Yudhoyono sudah menginstruksikan sebaliknya. Dia meminta belanja negara harus dilaksanakan tepat waktu, tidak lagi menumpuk di akhir tahun seperti yang terjadi selama ini.
“Harapan saya bisa diimplementasikan dengan tepat waktu dan tepat sasaran, jangan ada kemandekan apapun. Setiap kemandekan akan berpengaruh pada hasil akhir pembangunan 2014 mendatang,” papar Yudhoyono
Belanja negara, lanjut Yudhoyono, akan memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Mengingat perekonomian global yang masih penuh ketidakpastian, Indonesia akan bergantung pada sektor domestik yaitu konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.
“Saat ekonomi global mengalami masalah dan investasi pun tentu dipengaruhi oleh perekonomian global, maka seraya menjaga konsumsi rumah tangga andalan kita adalah pada belanja pemerintah, anggaran negara. Mari dengan penuh kesadaran DIPA benar-benar digunakan,” kata Yudhoyono.
Hal kedua yang ditekankan Yudhoyono adalah mencegah penyimpangan anggaran. “Saya juga mengajak dan berharap agar anggaran tersebut digunakan secara tepat, transparan, dan akuntabel. Cegah, sekali lagi cegah terjadinya penyimpangan,” tuturnya.
Terkadang, kementerian dan pemerintah daerah ragu menggunakan anggaran karena khawatir di kemudian hari ternyata ditemukan adanya penyimpangan. “Pengalaman menunjukkan ada masalah di sana-sini yang membuat pejabat di daerah terkadang ragu untuk menggunakan anggaran. Jika ada keraguan dalam penggunaan anggaran ini, maka segera carikan solusinya dan konsultasi kepada pihak-pihak terkait. Saya ingin bernegara kita makin tertib, negara kita makin bersih, oleh karena itu pemberantasan korupsi harus jalan,” kata Yudhoyono.
(hds/DES)











































