Waspadai Monopoli di Balik Gerakan Nasional Temulawak
Kamis, 25 Nov 2004 16:51 WIB
Jakarta - Temulawak tiba-tiba menjadi minuman favorit kalangan istana. Minuman lokal ini bahkan diusulkan jadi pengganti welcome drink di hotel-hotel. Monopoli mengintip?"Bisa saja timbul monopoli, karena ada main mata antara pengusaha dengan penguasa. Kebijakan itu nantinya hanya menguntungkan pihak tertentu," kata Ketua Monopoly Watch, Samuel Nitisaputra, saat berbincang-bincang melalui telepon dengan detikcom, Kamis (25/11/2004).Samuel menambahkan, sudah lama penguasa dan pengusaha Indonesia terjebak dalam hubungan yang negatif. Hubungan 'gelap' penguasa dan pengusaha berada dalam pola take and give yang selalu merugikan pihak lain."Hubungan peguasa dan pengusaha seharusnya dapat menciptakan iklim dunia usaha yang positif. Sayangnya, di negara kita keduanya sudah biasa terjebak pada hubungan yang melahirkan KKN. Ini yang harus dicegah," ujar Samuel.Samuel juga memandang aneh kebijakan pemerintah yang tiba-tiba tertarik pada temulawak. Hal ini, sambung Samuel, semakin menunjukan pemerintah tidak memiliki konsep perbaikan ekonomi yang tepat.Menurut Samuel, pemerintah seharusnya lebih konsern pada ekonomi makro. Sebab, sambungnya, ekonomi mikro Indonesia, khususnya di sektor non formal, selama ini sudah terbukti mampu survive."Kios rokok, pedagang jamu, pedagang kaki lima, tukang mie, mereka selama ini justru bisa survive. Pemerintah tidak perlu ikut campur lagi, tapi cukup melindungi mereka. Misalnya bagaimana memberikan kemudahan kredit dan mendorong ekspor. Itu lebih signifikan," tutur Samuel."Saya bilang aneh karena ini muncul dari sebuah kebingungan. Apa sih konsernnya pemerintah. Kalau pemerintah dan para ekonom saja bingung, apa lagi kita," imbuh Samuel.Berita Terkait:* Menneg Kominfo: Rasa Temulawak Seperti Markisa* Temulawak Jadi Minuman Istana* Welcome Drink Hotel akan Diganti Temulawak
(djo/)











































