Setelah Krisis Minyak, RI Siap-siap Hadapi Krisis Air

Setelah Krisis Minyak, RI Siap-siap Hadapi Krisis Air

Maikel Jefriando - detikFinance
Selasa, 24 Des 2013 14:52 WIB
Setelah Krisis Minyak, RI Siap-siap Hadapi Krisis Air
Jakarta - Dunia saat ini masih meributkan persoalan sumber energi, terutama minyak yang dikhawatirkan akan habis. Akan tetapi tanpa disadari, kelangkaaan sumber daya air juga mulai menunjukkan indikasi. Ini juga bakal dialami oleh Indonesia.

Deputi Sarana dan Prasarana Bappenas Dedy Priatna mengatakan, kondisi ancaman krisis air harus jadi perhatian penting Indonesia. Apalagi mengingat negara ini berlimpah air, namun daya tampungnya masih sangat rendah.

"Kalau sekarang kita meributkan minyak, nah besok kita akan ribut soal air. Karena langkanya air di seluruh dunia. Indonesia memang berlimpah air, tapi daya tampungnya rendah," ungkap Dedy di kantor Bappenas, Jakarta, Selasa (24/12/2013)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akibat daya tampung yang rendah, kecukupan air untuk kebutuhan masyarakat yang jumlahnya terus bertambah masih belum terpenuhi hingga saat ini. Terlihat ketika adanya musim hujan, timbul bencana banjit. Namun saat musim kemarau, akan terjadi kekeringan.

"Bagaimana sekarang, kalau musim hujan kebanjiran dan musim kemarau itu kekeringan. Karena pas hujan itu langsung lari ke laut," sebutnya.

Pada tahun 2012 lalu kebutuhan air di Indonesia adalah sebesar 1.975 meter kubik per kapita per tahun. Sementara yang tersedia baru sebesar 54 meter kubik per kapita per tahun.

"Itu kita sangat sedikit sekali. Beda dengan Thailand yang datanya tahun 2003 saja itu sudah mencapai ribuan. Indonesia baru 52 meter kubik per kapita per tahun," ujarnya.

Dedy menilai, Indonesia hanya sedikit lebih baik dari negara-negara terbelakang di kawasan Afrika. Salah satunya adalah Ethiopia.

"Kita hanya sedikit lebih baik dari Ethiopia. Tapi yang lain itu kita sudah jauh tertinggal," terangnya.

(mkj/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads