“Banyuwangi diincar oleh banyak sekolah penerbang karena kondisinya ideal. Banyuwangi punya enam area udara untuk latihan,” kata Biyan Barlian, salah satu instruktur di Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbang Banyuwangi (LP3B).
Wilayah udara Banyuwangi memenuhi sejumlah kriteria untuk menjadi tempat praktik bagi sekolah penerbang. “Bukan di atas perumahan, laut tidak jauh dari daratan, tidak banyak dilalui traffic penerbangan komersial, dan minim obstacles seperti gunung, BTS (Base Transceiver Station), atau SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi,” papar Biyan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, maraknya pihak yang membuka sekolah penerbang di Banyuwangi tidak selamanya berdampak positif. “Saya sudah berkirim surat kepada Kementerian Perhubungan supaya itu (izin kepada MUFA) menjadi yang terakhir dikeluarkan untuk sekolah pilot disini. Supaya tidak padat,” tegas Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi.
Menanggapi hal tersebut, Santoso Eddy Wibowo, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Perhubungan, menyatakan ke depan perekonomian Banyuwangi akan terus berkembang sehingga semakin banyak rute penerbangan komersial yang akan singgah di daerah ini. Namun keberadaan sekolah penerbang tetap perlu mendapatkan perhatian.
“Jangan sampai sekolahnya minggir, harus seimbang. Kita harus membuat masterplan untuk flight sehingga sekolahnya tidak tergusur,” kata Santoso.
Salah satu upaya untuk menjaga eksistensi sekolah penerbang, lanjut Santoso, adalah membuat fasilitas untuk penerbangan di malam hari khusus untuk praktik sekolah penerbang. “Boleh 1-2 kali penerbangan malam untuk komersial, tetapi utamanya untuk latihan pilot,” ujarnya.











































