Bank Dunia pernah mengingatkan potensi penggelembungan nilai aset (bubble) sektor properti di Indonesia. Ini karena pertumbuhan properti di Indonesia, khususnya di kota-kota besar, meningkat dengan cukup pesat.
Bagaimana dengan kondisi sektor properti tahun depan? Lembaga pemeringkat Fitch Ratings memperkirakan sektor properti pada 2014 akan sedikit melambat.
βPengembang properti residensial akan mengalami iklim bisnis yang lebih menantang pada 2014. Ini karena aturan kredit yang lebih ketat, harga jual yang sudah tinggi, dan kecenderungan konsumen untuk menunda pembelian properti jelang Pemilu,β sebut Fitch dalam risetnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan di sisi regulasi, Bank Indonesia (BI) telah merilis aturan uang muka minimum sebesar 30 persen dari sebelumnya 20 persen. Untuk rumah kedua bahkan uang muka minimum ditetapkan sebesar 40 persen.
βBI telah mewaspadai tingginya pertumbuhan sektor properti akibat suku bunga rendah dan aturan kepemilikan yang longgar. Kami memperkirakan kebijakan ini akan membuat permintaan properti segmen menengah-atas akan menurun karena konsumennya kebanyakan membeli untuk investasi sehingga bisa ditunda,β papar riset Fitch.
Perlambatan sektor properti juga akan mempengaruhi saham emiten yang bergerak di sektor ini. Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities, memperkirakan kinerja emiten properti menurun pada tahun depan.
Menurut Reza, faktor lain yang mempengaruhi sektor properti adalah suku bunga. Sepanjang 2013 suku bunga acuan (BI Rate) sudah naik 175 poin menjadi 7,5 persen dan kemungkinan bisa naik lagi pada 2014.
Kenaikan BI Rate tentunya direspon oleh perbankan dengan menaikkan suku bunga kredit, termasuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR). βKalau bank menaikkan bunga KPR, permintaannya juga berkurang,β ujar Reza. (DES/hds)











































