Bencana banjir tentu berdampak pada roda perekonomian. Produksi dan distribusi terganggu akibat bencana ini. Imbasnya adalah kenaikan harga yang harus ditebus oleh konsumen.
Menurut Bambang Brodjonegoro, Wakil Menteri Perekonomian, banjir akan memberikan tekanan inflasi. Dia berharap tambahan inflasi akibat banjir tidak terlalu signifikan.
“Banjir menyebabkan inflasi pasti sedikit lebih tinggi. Namun kami harapkan tidak mencapai 1 persen,” katanya, di Jakarta baru-baru ini.
Pada Januari 2013, ketika banjir juga mengepung berbagai wilayah, inflasi menyentuh angka 1,03 persen. Agar kondisi serupa tidak terjadi, Bambang menyebutkan langkah terpenting adalah menjaga pasokan kebutuhan pokok, terutama bahan pangan.
“Yang penting pasokan pangan di daerah yang terkena banjir itu ada. Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, ini yang agak terganggu,” tutur Bambang.
Perry Warjiyo, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), menyatakan bank sentral punya perkiraan inflasi Januari sebesar 0,7 persen. Lebih tinggi dibandingkan Desember 2013 yang sebesar 0,55 persen.
“Secara seasonal, Januari memang tinggi,” ujar Perry. Menurutnya, setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan inflasi Januari akan lebih tinggi yaitu berakhirnya musim panen dan banjir.
Meski cukup tinggi, Perry menilai perkiraan inflasi Januari 2014 yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya merupakan sebuah keberhasilan. “Langkah yang ditempuh BI dan pemerintah berhasil meredam inflasi,” ujarnya.
Hatta Rajasa, Menko Perekonomian, menyebutkan cuaca ekstrem memang masih menjadi tantangan bagi perekonomian pada tahun ini. “Inflasi, itu menjadi hal yang sangat penting untuk kita kendalikan,” tegasnya.
Pemerintah, tambah Hatta, sudah membentuk desk khusus untuk menjaga inflasi terutama dari sisi stabilitas harga bahan pokok. “Kami juga akan menjaga kelancaran arus barang yang sangat mempengarhi ketersediaan bahan pangan di daerah,” ujarnya.
Jika ada kekurangan pasokan bahan pangan, pemerintah juga telah menginstruksikan Bulog untuk mengambil tindakan. Hatta menyatakan Bulog tidak perlu menunggu instruksi. “Begitu ada gejolak harga akibat kekurangan pasokan, gudang Bulog harus segera mensuplai melalui intervensi pasar. Ini kami komunikasikan dengan para kepala daerah,” katanya.
(/)











































