Direktur Utama Damri Suherman Subrata mengatakan ekspansi ini awalnya adalah pada tahun 2012. Di mana hal ini sesuai dengan permintaan pemerintah Timor Leste lewat Kedutaan Besar Indonesia.
"Mereka mengharapkan Damri bisa operasikan di kota Dili. Saya sudah laporkan Kemenhub dan BUMN masalah itu. Rupanya belum ada MoU transportasi dari kedua negara. Makanya disarankan itu business to business. Kita masuk lewat Kedubes," ungkap Suherman di kantornya, Jalan Matraman, Jakarta, Kamis (23/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Agak rumit pada November 2012, kita ingin ke sana. Tapi katanya Desember kemarin mereka yang mau kesini. Karena kita butuh kejelasan. Makanya kita akan kesana untuk memastikan beberapa hal," sebutnya.
"Pertama melihat sebenarnya aturan yang berlaku di sana. Kedua, aset kita sebelumnya apa bisa diambil, ketiga, tenaga kerja seperti apa dan investasi bisa kembali nggak kalau ada masalah," papar Suherman.
Modal ekspansi, menurut Suherman sudah cukup kuat. Sementara Damri telah menyiapkan 25 bus Damri ukuran medium atau senilai Rp 650 juta per bus.
"Kita tahun lalu sudah siapkan 25 bus. Karena kita inginya begitu deal, kita langsung coba. Nah tahun lalu itu karena belum jadi. Kita alihkan busnya. Nah tahun ini kita siapkan 25 lagi," ujarnya.
(/)










































