Orang Ini Kolektor Game Terbanyak Sedunia

Hobi dan Bisnis Video Game (1)

Orang Ini Kolektor Game Terbanyak Sedunia

- detikFinance
Jumat, 28 Feb 2014 09:47 WIB
Orang Ini Kolektor Game Terbanyak Sedunia
Michael Thomasson dan koleksinya. (Foto: Huffingtonpost.com)
Jakarta - Ketika kecil, banyak di antara kita yang akrab dengan video game. Entah itu konsol dari Nintendo Entertainment System (NES), Sega Genesis/Megadrive, Sony Playstation, atau apapun tergantung generasi ketika Anda lahir. Namun meski sudah dewasa, masih banyak orang-orang yang 'terjebak' hobi video game.

Beberapa di antara mereka ada yang sangat serius dengan video game. Ada yang menjadi kolektor, membuat komunitas, sampai menjadikannya sebagai mata pencarian.

Sebagai kolektor, pemegang rekornya adalah Michael Thomasson. Pria asal New York ini sudah lebih dari 30 tahun mengoleksi video game. Koleksi video game laki-laki 43 tahun ini mencapai sekitar 11 ribu, sehingga Guiness Book of World Records menobatkannya sebagai kolektor game terbanyak di dunia.

Game pertama Thomasson adalah Cosmic Avenger untuk konsol Colecovision, yang didapatnya sebagai hadiah Natal dari kakek-neneknya saat berusia 12 tahun. Uniknya, dia mendapat game tersebut sebelum memiliki konsolnya. Kakek-nenek Thomasson mengira cucunya sudah memiliki Colecovision, padahal belum. Thomasson harus menunggu setahun untuk bisa memainkan hadiah itu.

Setelah peristiwa tersebut koleksi Thomasson terus bertambah, baik game, konsol, sampai aksesoris. “Saya punya game yang berbasis cartridge, laser disc, VHS, sampai kaset,” katanya, seperti dikutip dari NY Daily News.

Thomasson tidak hanya memiliki game dari konsol-konsol yang umum seperti NES, Sega Genesis, atau Playstation. Dia juga memiliki game dari konsol-konsol aneh seperti Casio Loopy atau Pippin yang dibuat oleh Apple. “Game-game di konsol tersebut sangat buruk. Itu adalah benda-benda yang tidak menyenangkan di rumah ini,” ujar Thomasson.

Perjalanan Thomasson untuk mencapai rekor tidak selalu berjalan mulus. Dia pernah dua kali menjual koleksinya, yaitu pada 1989 untuk membeli Sega Genesis dan pada 1998 untuk membiayai pernikahannya.

“Saya sudah menjadi seorang kolektor sebelum menikah. Istri saya harus terbiasa dengan hal itu,” tukas Thomasson.

Setelah menikah, Thomasson kembali melanjutkan hobinya. Namun dia membatasi anggaran yaitu US$ 3 ribu (Rp 30 juta) per tahun. Kini, total koleksinya ditaksir seharga US$ 700-800 ribu (Rp 7-8 miliar).

Sementara untuk penjual, GameStop mungkin adalah yang terbesar di dunia. Perusahaan asal Texas (Amerika Serikat) ini memiliki lebih dari 6 ribu toko game yang tersebar di 15 negara. Selain itu, GameStop juga berdagang di jalur online di situs gamestop.com.

Dikutip dari rilis perusahaan, pada kuartal III 2013 penjualan GameStop secara global tercatat sebesar US$ 2,11 miliar (Rp 21,1 triliun), naik 18,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih pada periode tersebut adalah US$ 68,6 juta (Rp 686 miliar), naik 45,3 persen.

Itu adalah sekelumit kisah kolektor dan bisnis penjualan video game di luar negeri. Bagaimana di Indonesia? Ada juga kok orang Indonesia yang 'segila' Thomasson. Tapi memang koleksinya belum sebanyak pria itu, meski tak kalah menarik juga untuk diulas. Simak laporan khusus detikFinance hari ini.



Hobi dan Bisnis Video Game (1)







Dari Hobi, Video Game Bisa Nafkahi Hidup Orang Ini







Ketika kecil, banyak di antara kita yang akrab dengan video game. Entah itu konsol dari Nintendo Entertainment System (NES), Sega Genesis/Megadrive, Sony Playstation, atau apapun tergantung generasi ketika Anda lahir. Namun meski sudah dewasa, masih banyak orang-orang yang “terjebak” di hobi video game.







Beberapa di antara mereka ada yang sangat serius dengan video game. Ada yang menjadi kolektor, membuat komunitas, sampai menjadikannya sebagai mata pencarian.







Sebagai kolektor, pemegang rekornya adalah Michael Thomasson. Pria asal New York ini sudah lebih dari 30 tahun mengoleksi video game. Koleksi video game laki-laki 43 tahun ini mencapai sekitar 11 ribu, sehingga Guiness Book of World Records menobatkannya sebagai kolektor game terbanyak di dunia.







Game pertama Thomasson adalah Cosmic Avenger untuk konsol Colecovision, yang didapatnya sebagai hadiah Natal dari kakek-neneknya saat berusia 12 tahun. Uniknya, dia mendapat game tersebut sebelum memiliki konsolnya. Kakek-nenek Thomasson mengira cucunya sudah memiliki Colecovision, padahal belum. Thomasson harus menunggu setahun untuk bisa memainkan hadiah itu.







Setelah peristiwa tersebut koleksi Thomasson terus bertambah, baik game, konsol, sampai aksesoris. “Saya punya game yang berbasis cartridge, laser disc, VHS, sampai kaset,” katanya, seperti dikutip dari NY Daily News.







Thomasson tidak hanya memiliki game dari konsol-konsol yang umum seperti NES, Sega Genesis, atau Playstation. Dia juga memiliki game dari konsol-konsol aneh seperti Casio Loopy atau Pippin yang dibuat oleh Apple. “Game-game di konsol tersebut sangat buruk. Itu adalah benda-benda yang tidak menyenangkan di rumah ini,” ujar Thomasson.







Perjalanan Thomasson untuk mencapai rekor tidak selalu berjalan mulus. Dia pernah dua kali menjual koleksinya, yaitu pada 1989 untuk membeli Sega Genesis dan pada 1998 untuk membiayai pernikahannya.







“Saya sudah menjadi seorang kolektor sebelum menikah. Istri saya harus terbiasa dengan hal itu,” tukas Thomasson.







Setelah menikah, Thomasson kembali melanjutkan hobinya. Namun dia membatasi anggaran yaitu US$ 3 ribu (Rp 30 juta) per tahun. Kini, total koleksinya ditaksir seharga US$ 700-800 ribu (Rp 7-8 miliar).







Sementara untuk penjual, GameStop mungkin adalah yang terbesar di dunia. Perusahaan asal Texas (Amerika Serikat) ini memiliki lebih dari 6 ribu toko game yang tersebar di 15 negara. Selain itu, GameStop juga berdagang di jalur online di situs gamestop.com.







Dikutip dari rilis perusahaan, pada kuartal III 2013 penjualan GameStop secara global tercatat sebesar US$ 2,11 miliar (Rp 21,1 triliun), naik 18,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih pada periode tersebut adalah US$ 68,6 juta (Rp 686 miliar), naik 45,3 persen.







Itu adalah sekelumit kisah kolektor dan bisnis penjualan video game di luar negeri. Bagaimana di Indonesia? Ada juga kok orang Indonesia yang 'segila' Thomasson. Tapi memang koleksinya belum sebanyak kolektor luar negeri, tapi tak kalah menarik untuk diulas. Simak laporan khusus detikFinance hari ini.





(hds/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads