Menerka Kebijakan Ekonomi Para Capres

Mencermati Reaksi Pasar Terhadap Pemilu (5)

Menerka Kebijakan Ekonomi Para Capres

- detikFinance
Jumat, 11 Apr 2014 18:00 WIB
Menerka Kebijakan Ekonomi Para Capres
Seniman karikatur di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, mencoba meraih peruntungan dengan menjual karikatur para calon presiden. (Foto: Rengga Sancaya/Detikcom)
Jakarta - Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif menjadi awal untuk tahapan pesta demokrasi yang selanjutnya, yaitu Pemilihan Umum Presiden. Hasil di pemilu ini akan menentukan siapa saja kira-kira yang akan maju sebagai presiden. Kira-kira apa saja inti kebijakan ekonomi dari para calon tersebut?
 
Ahmad Erani Yustika, guru besar ekonomi Universitas Brawijaya, mengatakan sebelumnya banyak yang memperkirakan PDI Perjuangan akan menang mutlak dalam Pileg. Namun berdasarkan hasil hitung cepat (quick count) sejumlah lembaga, partai Moncong Putih hanya memperoleh sekitar 19 persen suara, tidak memadai untuk mengajukan calon presiden-wakil presiden sendiri.
 
PDI-P sudah menentukan calon presiden mereka yaitu Joko Widodo. Sosok Jokowi, sapaan akrabnya, merupakan calon presiden yang sudah diekspetasikan oleh pelaku pasar.
 
“Semula banyak yang memperkirakan PDI-P menang besar sehingga langkah Jokowi akan lebih mudah. Namun melihat hasil quick count, sepertinya peluang Jokowi tidak mudah karena persaingan bakal ketat,” kata Erani.
 
Menurut Erani, selain Jokowi akan ada calon kuat lainnya yaitu dari Aburizal Bakrie (Partai Golkar) dan Prabowo Subianto (Partai Gerindra). Dalam berbagai hasil quick count, Golkar dan Gerindra masing-masing menempati posisi dua dan tiga di bawah PDI-P.
 
Erani mencoba memperkirakan inti dari kebijakan ekonomi ketiga calon presiden tersebut. Untuk Jokowi, dia menilai akan ada perubahan tetapi hanya dalam level moderat.
 
“Figur Jokowi adalah yang ingin perubahan, tetapi moderat. Contohnya dalam hal pertambangan, opsi nasionalisasi mungkin tidak akan dipilih,” tutur Erani.
 
Sedangkan Prabowo, menurut Erani, juga ingin perubahan tetapi lebih frontal. Dia memperkirakan ada perubahan yang radikal dalam perekonomian nasional jika Prabowo menjadi presiden.

Sementara Aburizal, demikian Erani, dinilai cukup pragmatis. “Tipikal Golkar adalah melanjutkan pemerintahan yang sebelumnya. Fokus kebijakan ekonominya masih akan sama, antara lain pertumbuhan, stabilitas, dan penciptaan lapangan kerja,” ucapnya.
 
Anton Hendranata, Ekonom Bank Danamon, juga menilai hasil Pilpres sulit diperkirakan. Peluang Jokowi, menurut dia, akan tergantung dari suara koalisi dan wakil presiden yang dipilih.
 
“Kelemahan utama PDI-P di pemilu legislatif adalah kurang populer di Indonesia timur. Jika kelemahan ini bisa tertutup oleh wakil yang populer di Indonesia timur, maka peluang Jokowi untuk menang masih tinggi,” kata Anton.
 
Belum jelasnya gambaran siapa presiden Indonesia ke depan sedikit banyak mempengaruhi para pelaku pasar. Moleonoto The, Direktur Utama Indo Premier, mengatakan pelaku pasar merespons negatif hasil pemilu karena belum jelas memberi petunjuk siapa pengganti Susilo Bambang Yudhoyono.
 
"Ini masih tidak jelas, ke depan sampai Juni tidak pasti kondisinya. Pasar masih menunggu-nunggu, siapa calon pemimpin dan pendampingnya. Masih menunggu kepastian politik," kata Moleonoto.

(hds/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads