Cara Bupati Azwar Anas Hindari Jurang Antara Kaya dan Miskin

Cara Bupati Azwar Anas Hindari Jurang Antara Kaya dan Miskin

- detikFinance
Jumat, 18 Apr 2014 15:32 WIB
Cara Bupati Azwar Anas Hindari Jurang Antara Kaya dan Miskin
Ilustrasi Foto: dok detikFinance
Jakarta - Ekonomi yang tumbuh tinggi setiap tahunnya seakan percuma bila angka kemiskinan tidak berkurang. Ini juga yang dapat membuat ketimpangan (gini rasio) antara kaya dan miskin semakin lebar.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan hal ini sudah diperhitungkan sejak awal. Maka dari itu, Azwar menggerakkan konsep pemerataan pembangunan di kabupaten yang terletak di Jawa Timur tersebut.

Secara makro. pertumbuhan ekonomi didorong dari sisi investasi oleh perusahaan besar. Azwar telah menyediakan area seluas 2.200 hektar untuk menarik masuknya industri kelas kakap.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk pertumbuhan yang tinggi kita mendorong pertumbuhan investasi, dan terbuktir perusahaan besar sudah datang kesini," ujarnya kepada detikFinance, Kamis (17/4/2014)

Pada 2013, investasi yang masuk di Banyuwangi mencapai Rp 3,2 triliun, meningkat hingga 175% dibanding tahun 2012 yang sebesar Rp 1,1 triliun. Jika dibandingkan dengan 2010 yang investasinya baru Rp 272 miliar, investasi di Banyuwangi melonjak 1.100%.

Kemudian, Azwar juga mendorong tumbuhnya perekonomian dari sisi mikro. Pemerintah mendekatkan akses perbankan ke usaha kecil yang didominasi oleh masyarakat kelas menengah ke bawah.

"Sekarang kredit mikro kita itu sudah lebih dari Rp 4,2 triliun tahun ini (2013), dari beberapa perbankan nasional," ujarnya.

Selain itu, Ia menggabungkan sektor pertanian dengan industri. Beberapa hasil produk pertanian didekatkan dengan industri besar. Dengan tujuan meningkatkan akses promosi dan pemasaran.

"Misalnya kita punya produk buah naga kita kerjasama dengan Carrefour," imbuhnya.

Menurutnya, bila hanya dengan mengandalkan investasi dari perusahaan besar, efeknya akan terasa lama. Karena seperti pembangunan pabrik, membutuhkan waktu penyelesaian selama 3 tahun.

"Industri saja, lama. Baru 3 tahun, pabrik gula sudah 3 tahun. Oleh karena itu mendorong industri saja itu proses pemerataan itu akan mandek," kata Azwar.

Melengkapi itu, Pemkab Banyuwangi juga meningkatkan infrastruktur jalan. Dari total Rp 2,2 triliun anggaran APBD, sebesar Rp 580 miliar dialokasikan untuk pembangunan jalan dan irigasi pertanian. Porsi anggaran tidak berbeda jauh dari tahun 2012.

"Tahun lalu itu 300 km, tahun ini 300 km, tahun 2012 250 km. Sehingga akses antar daerah wisata dan utama agro ini kita bangun dengan cukup," terangnya.

Hasilnya, dengan pertumbuhan ekonomi 2013 sebesar 6,85% (di atas rata-rata nasional 5,78%), pengangguran terbuka di Banyuwangi terus menurun dari 5,08 persen pada 2010 menjadi 3,4% pada 2012. Kemiskinan melorot dari kisaran 20% sebelum 2010 menjadi 9,9% pada 2013.

Kemudian pendapatan per kapita naik dari Rp 15 juta per orang per tahun (2011) menjadi Rp 19,6 juta pada tahun 2013. Capaian ini membuktikan ekonomi tidak hanya bertumpu pada kelas menengah atas saja.

"Makanya kita harus dorong terus makro dan mikro secara bersamaan," pungkasnya

(mkl/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads