Sisanya sebanyak 115.000 ton atau 10% lebih dari proyeksi kebutuhan, terpakasa dipasok dari impor. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro menjelaskan Indonesia sebetulnya telah swasembada daging namun ketersediaan pasokan tersebut terhambat akibat lemahnya ketersediaan infrastruktur dan saran pendukung mobilisasi sapi hidup hingga daging beku dari sentra penghasil sapi ke pasar-pasar di Jabodetabek.
Selama ini angkutan sapi mengandalkan transportasi darat atau truk akibatnya sering terjadi masalah di dalam penurunan bobot hingga minimnya kapasitas daya angkut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mendukung dan mempercepat rencana penyediaan sarana dan prasarana mobilisasi sapi dan daging lokal, Kementan mengaku memperoleh bimbingan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
"Yang paling utama swasembada distribusi dan transportasi. Maka Kementan gandeng Kemenhub. Itu di bawah bimbingan Litbang KPK. Di lintas sektor sedang menyusun program aksi. Kami ditargetkan oleh pendamping KPK dalam 2 tahun sarana bisa teratasi," sebutnya.
Untuk mempercepat mobilisasi peternakan dan daging, Kementan juga menggandeng Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Api Indonesia (Persero). Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan menjelaskan pihaknya bekerjasama Kemenhub untuk penyediaan kapal khusus angkutan ternak.
Tahun ini, Kemenhub akan menyediakan 3 kapal angkutan khusus ternak yang telah dimofikasi. Kapal ini akan membawa sapi-sapi dari sentra di Bali, NTT, NTB hingga Sulawesi Selatan ke pusat pasar di Jawa.
Sedangkan KAI bakal menyediakaan gerbong khusus untuk menbawa dan mendistribusikan daging beku di pulau Jawa. Di lokasi sentra sapi dan pasar juga akan dibangun Rumah Potong Hewan (RPH) skala besar.
"Ada kapal khusus ternak. Paling ada 3 kapal khusus angkutan ternak. Australia bisa cepat distribusi karena punya kapal angkutan ternak," sebutnya.
Meski akan menggenjot moda transportasi dan sarana ternak, Kementan juga tetap memperhatikan kualitas dan ketersediaan sapi lokal. Salah satunya dengan program inseminasi buatan atau kawin suntik. Program ini mampu meningkatkan kualitas bibit sapi unggul.
"Semua harus dibenahi di sektor produksi. Kita mengatakan distribusi bagus tapi swasembada masih rentan. Populasinya belum kuat. Dua-duanya dibenahi. Produksi dibenahi agar populasi terjaga. Salah satunya inseminasi buatan," sebutnya.
(ang/ang)











































