Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengklaim investor industri padat karya yang banyak menyerap tenaga kerja mulai meninggalkan Indonesia. Alasan mereka karena masalah upah yang tinggi dan infrastruktur yang minim.
Para investor padat karya lebih memilih merelokasi investasinya ke beberapa negara seperti Vietnam dan Bangladesh. Menurut Sofjan, fenomena ini sudah terjadi selama 2-3 tahun terakhir. Sektor padat karya antaralain industri tekstil dan garmen, sepatu, dan lainnya.
"Pengalaman kita 2-3 tahun terakhir, makin hari makin banyak investor yang tidak mau lagi masuk ke sektor industri padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja. Hal ini karena tidak banyak lagi keuntungan dan banyak masalah seperti buruh, logistik, bunga bank dan buruknya infrastruktur yang makin hari kita makin tidak kompetitif," kata Sofjan saat berdiskusi dengan media dengan tema "Merumuskan Produktivitas Kita" di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta, Rabu (30/04/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak perusahaan industri padat karya asal Korea dan Taiwan mulai banyak meninggalkan kita. Masalah yang mereka lihat adalah utama soal upah dan infrastruktur. Ongkos logistik kita masa 26% (dari Produk Domestik Bruto (PDB)/Gross Domestic Product (GDP)) sedangkan Malaysia 13% dari total cost production," imbuhnya.
Padahal sektor industri padat karya, menurut Sofjan mampu menyerap jumlah tenaga kerja per tahun mencapai 2 juta tenaga kerja. Banyaknya sektor industri padat karya yang merelokasi pabriknya diprediksi hanya akan menyerap tenaga kerja antara 1 juta hingga 1,5 juta per tahun.
"Sekarang banyak investasi yang masuk ke padat modal. Industri padat karya mampu menyerap 2-2,5 juta tenaga kerja setiap tahun. Kalau sekarang paling tidak hanya terserap 1-1,5 juta sedangkan 1 juta tenaga kerja tidak terserap dan ini yang menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) bahkan preman," cetusnya.
(wij/hen)











































