Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 01 Mei 2014 13:37 WIB

Ini Dia Penampakan 'Bandara Hijau' di Banyuwangi Tanpa AC

- detikFinance
Foto: Maket Bandara Banyuwangi (dok.detikFinance)
Banyuwangi - Inovasi demi inovasi terus dilakukan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Terbaru, kabupaten berjuluk 'The Sunrise of Java' itu mengembangkan Bandara Blimbingsari dengan konsep hijau (green airport).

Bandara ini didesain tanpa AC, kecuali di ruangan tertentu. Sirkulasi udara diatur dengan kisi-kisi dan lebih banyak ruang terbuka. Aliran air juga ikut membantu menyejukkan udara. Di sekeliling terminal, bahkan di atas terminal, tanaman hijau membentang.

Energi alami dimanfaatkan dengan mengatur pencahayaan matahari sebagai penerang ruangan di siang hari. Dinding bandara akan berbentuk kisi-kisi yang memungkinkan angin lewat serta cahaya matahari masuk. Juga akan ada kolam-kolam ikan yang berfungsi menurunkan tekanan udara dan pohon-pohon yang menambah kesejukan.

"Sebagai salah satu pintu masuk Banyuwangi, Bandara Blimbingsari adalah etalase awal yang mencerminkan identitas daerah. Untuk itu, pengembangan arsitektur bandara ini dirancang khas," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pada detikFinance usai peresmian penerbangan perdana Garuda Indonesia di Bandara Blimbingsari, Kamis (01/05/2014).

Anas mengatakan, konsep green architecture yang dipilih adalah passive design, yang merupakan pilihan pembangunan green building yang digarap sejak awal oleh arsitek, berbeda dengan active design yang banyak mengandalkan teknisi untuk menghemat energi. Hemat energi diwujudkan dengan penataan ruang, bukan dengan alat modern seperti solar cell.

"Passive design menghemat lebih banyak karena direncanakan semuanya sejak awal untuk mengurangi beban energi," tuturnya.

Bandara Banyuwangi juga bakal menggunakan bahan daur ulang dengan memanfaatkan kayu ulin bekas sebagai bahan utama, baik tiang penyangga maupun dinding bangunan bandara. "Kayu ulin ini sangat kuat dan tahan rayap, banyak tersedia dari bekas kapal maupun dermaga," urai Anas.

Selain aspek lingkungan, konsep hijau juga mengakomodasi budaya lokal. Bandara mengadopsi gaya rumah Osing. Bahkan, jika dilihat dari atas atau pinggir, model terminal serupa Udeng, penutup kepala khas Banyuwangi. Kebiasaan masyarakat yang mengantar kerabatnya bepergian juga difasilitasi dengan ruang tunggu yang nyaman, sehingga pengantar merasa sedang berada di rumah.

"Kami mengajak arsitek kondang Andra Matin yang bersinergi dengan arsitek lokal untuk mendesain bandara," kata Anas.

Dengan konsep hijau, bandara bisa lebih hemat, baik untuk pembangunan maupun operasionalnya. Jika pembangunan bandara di daerah lain mencapai ratusan miliar, Bandara Blimbingsari, Banyuwangi cukup Rp 40 miliar.

Bandara Blimbingsari yang baru akan mampu menampung 250 ribu penumpang. Bandara juga dilengkapi 10 konter check-in sebagai antisipasi perkembangan sampai 10 tahun ke depan dengan lima maskapai yang beroperasi.

"Green airport ini akan menjadi daya tarik tersendiri. Kami yakin wisatawan akan penasaran dengan green airport ini, lalu berkunjung ke destinasi wisata yang ada di Banyuwangi. Ekonomi lokal bergerak, masyarakat makin sejahtera," pungkasnya.

(dnl/dnl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com