Tuntutan buruh ini menuai komentar dari pengusaha hingga menteri. Hampir semuanya menganggap permintaan baru buruh ini tidak masuk akal.
Bagaimana cerita tarik-menarik antara buruh dan pengusaha ini? Berikut papaparan lengkapnya yang berhasil dihimpun detikFinance, Jumat (2/5/2014).
|
|
1. Serikat Pekerja Tuntut Uang Pulsa dan Parfum
|
|
Komponen yang akan ditambah dan dimasukan ke dalam KHL yang baru adalah mulai dari biaya untuk membeli koran, kebutuhan pulsa hingga parfum dan lainnya.
"Soal KHL, satu contoh kita masukkan koran sebagai satu kebutuhan buruh. Lalu pulsa kita tidak menutup mata semua buruh punya handphone. Itu semua kebutuhan. Lalu buruh minta parfum, kan manusia masa tidak punya parfum tetapi jangan dilihat mereknya Guci. Jadi saya pikir 60 menjadi 84 item itu adalah hal yang wajar," ungkap Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea.
KSPSI sudah menyuarakan penambahan jumlah KHL tahun lalu namun pemerintah dan pengusaha tidak satu suara dengan kepentingan para buruh. Untuk itu, tahun ini pihak buruh kembali menyuarakan penambahan jumlah KHL terutama saat acara perayaan Hari Buruh Internasional 1 Mei 2014.
1. Serikat Pekerja Tuntut Uang Pulsa dan Parfum
|
|
Komponen yang akan ditambah dan dimasukan ke dalam KHL yang baru adalah mulai dari biaya untuk membeli koran, kebutuhan pulsa hingga parfum dan lainnya.
"Soal KHL, satu contoh kita masukkan koran sebagai satu kebutuhan buruh. Lalu pulsa kita tidak menutup mata semua buruh punya handphone. Itu semua kebutuhan. Lalu buruh minta parfum, kan manusia masa tidak punya parfum tetapi jangan dilihat mereknya Guci. Jadi saya pikir 60 menjadi 84 item itu adalah hal yang wajar," ungkap Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea.
KSPSI sudah menyuarakan penambahan jumlah KHL tahun lalu namun pemerintah dan pengusaha tidak satu suara dengan kepentingan para buruh. Untuk itu, tahun ini pihak buruh kembali menyuarakan penambahan jumlah KHL terutama saat acara perayaan Hari Buruh Internasional 1 Mei 2014.
2. Pengusaha Anggap Permintaan Itu Ngawur
|
|
Para buruh mendesak jumlah KHL bertambah dari 60 item yang berlaku sekarang menjadi 84 item. Komponen yang akan ditambah dan dimasukan ke dalam KHL yang baru adalah biaya membeli koran, kebutuhan pulsa, hingga parfum dan lainnya.
"Sekarang kan komponen yang masuk KHL itu ada 60 item dan itu sudah memasukkan semua unsur yang jadi kebutuhan dasar, angka ini masih valid, sekarang mereka minta tambahan jadi 84 itu mereka asal ngomong, ngawur namanya. Dasarnya dari mana bisa sampai 84, malah mereka pernah minta sampai 122, kenapa nggak sekalian saja 200 begitu biar nggak nanggung," ujar Wakil Ketua Kadin Bidang Kebijakan Publik, Fiskal, dan Moneter Hariyadi Sukamdani saat dihubungi detikFinance, kemarin.
Sejauh ini pengusaha memahami betul apa yang dibutuhkan para buruh dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Namun, kata Haryadi, hal ini tidak lantas dijadikan objek untuk menuntut permintaan di luar yang semestinya.
"Dulu saya adalah bagian di dewan pengupahan nasional jadi saya tahu persis apa permintaan dan yang dibutuhkan buruh. Kita juga sebagai pengusaha berusaha untuk bisa memberikan yang bisa memenuhi kebutuhan dasar mereka. Segala aturan apa pun sama halnya dengan KHL harus ada mekanismenya. Ini permintaannya sudah ke mana-mana, dan saya yakin betul ini nggak akan dikabulkan," jelas dia.
2. Pengusaha Anggap Permintaan Itu Ngawur
|
|
Para buruh mendesak jumlah KHL bertambah dari 60 item yang berlaku sekarang menjadi 84 item. Komponen yang akan ditambah dan dimasukan ke dalam KHL yang baru adalah biaya membeli koran, kebutuhan pulsa, hingga parfum dan lainnya.
"Sekarang kan komponen yang masuk KHL itu ada 60 item dan itu sudah memasukkan semua unsur yang jadi kebutuhan dasar, angka ini masih valid, sekarang mereka minta tambahan jadi 84 itu mereka asal ngomong, ngawur namanya. Dasarnya dari mana bisa sampai 84, malah mereka pernah minta sampai 122, kenapa nggak sekalian saja 200 begitu biar nggak nanggung," ujar Wakil Ketua Kadin Bidang Kebijakan Publik, Fiskal, dan Moneter Hariyadi Sukamdani saat dihubungi detikFinance, kemarin.
Sejauh ini pengusaha memahami betul apa yang dibutuhkan para buruh dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Namun, kata Haryadi, hal ini tidak lantas dijadikan objek untuk menuntut permintaan di luar yang semestinya.
"Dulu saya adalah bagian di dewan pengupahan nasional jadi saya tahu persis apa permintaan dan yang dibutuhkan buruh. Kita juga sebagai pengusaha berusaha untuk bisa memberikan yang bisa memenuhi kebutuhan dasar mereka. Segala aturan apa pun sama halnya dengan KHL harus ada mekanismenya. Ini permintaannya sudah ke mana-mana, dan saya yakin betul ini nggak akan dikabulkan," jelas dia.
3. Uang Koran Hingga Parfum Bisa Bikin Perusahaan Tutup
|
|
Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mewanti-wanti, banyaknya tuntutan buruh ini bisa menyebabkan tutupnya perusahaan-perusahaan di Indonesia.
Demikian disampaikan Wakil Ketua Kadin Bidang Kebijakan Publik, Fiskal, dan Moneter Hariyadi Sukamdani kepada detikFinance di Jakarta, Kamis (1/5/2014).
"Ada-ada saja permintaan buruh (uang koran, pulsa, parfum), ini sudah ngawur. Sekarang saja sudah banyak perusahaan-perusahaan padat karya tutup, bagaimana nanti," ujar Hariyadi.
Dia menjelaskan, banyaknya tuntutan buruh berdampak pada beban perusahaan terutama di sektor pada karya. Imbasnya, kata dia, tidak menutup kemungkinan perusahaan-perusahaan ini memilih untuk tutup daripada harus menanggung beban upah yang semakin tinggi.
"Nggak usah jauh-jauh, kita lihat yang paling berdampak dari kenaikan listrik itu kan perusahaan padat karya, mereka dari situ saja sudah keberatan, ditambah tuntutan macam-macam dari buruh, ini mereka mungkin akan pilih tutup," jelas dia.
3. Uang Koran Hingga Parfum Bisa Bikin Perusahaan Tutup
|
|
Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mewanti-wanti, banyaknya tuntutan buruh ini bisa menyebabkan tutupnya perusahaan-perusahaan di Indonesia.
Demikian disampaikan Wakil Ketua Kadin Bidang Kebijakan Publik, Fiskal, dan Moneter Hariyadi Sukamdani kepada detikFinance di Jakarta, Kamis (1/5/2014).
"Ada-ada saja permintaan buruh (uang koran, pulsa, parfum), ini sudah ngawur. Sekarang saja sudah banyak perusahaan-perusahaan padat karya tutup, bagaimana nanti," ujar Hariyadi.
Dia menjelaskan, banyaknya tuntutan buruh berdampak pada beban perusahaan terutama di sektor pada karya. Imbasnya, kata dia, tidak menutup kemungkinan perusahaan-perusahaan ini memilih untuk tutup daripada harus menanggung beban upah yang semakin tinggi.
"Nggak usah jauh-jauh, kita lihat yang paling berdampak dari kenaikan listrik itu kan perusahaan padat karya, mereka dari situ saja sudah keberatan, ditambah tuntutan macam-macam dari buruh, ini mereka mungkin akan pilih tutup," jelas dia.
4. Kemenakertrans: Banyak Buruh Tak Paham Filosofi Upah Minimum
|
|
Menurut Irianto, setidaknya ada 3 filosofi yang harus diperhatikan dalam menysusun KHL sebagai landasan penetapan upah minimum.
Pertama, kata Irianto, upah minimum adalah besaran gaji yang diperuntukkan bagi tenaga kerja lajang. "Namanya juga upah minimum, jadi pertimbangan berdasarkan kebutuhan paling minimum, paling inti yang harus dipenuhi. Jadi ini filosofinya untuk tenaga kerja lajang yang kebutuhannya baru untuk diri sendiri saja," jelas dia.
Kedua, lanjutnya, upah minimun adalah besaran gaji yang dihutung bagi tenaga kerja baru yang belum berpengalaman. "Upah minimum itu untuk upah buruh yang 0 tahun. Jadi jangan disalahkaprahkan," tambah dia.
Sementara hal yang ketiga adalah, upah minimum diperuntukkan bagi tenaga kerja tidak berpengalaman dan minim keterampilan. "Filosofi ketiga, upah minimum itu diperuntukkan bagi tenaga kerja buruh yang unskilled. Kalau dia punya kemampuan masa mau diupah UMP, masa gajinya tak akan dinaikkan. Ya kalau mau gajinya naik, keterampilannya harus bertambah," tandasnya.
Lewat pertimbangan itu, Irianto mengimbau agar para serikat buruh dapat lebih bijak dalam mengajukan usulan yang akan dimasukkan dalam KHL.
"Kalau minta parfum, itu ya nggak rasional lah. Dipikirkan lah yang benar-benar rasional. Misalnya kalau tak ada barang itu, dia (buruh/tenaga kerja) tidak bisa hidup. Yang diajukan untuk KHL harus dipertimbangkan 3 filosofi itu, biar hasilnya rasional," pungkas dia.
4. Kemenakertrans: Banyak Buruh Tak Paham Filosofi Upah Minimum
|
|
Menurut Irianto, setidaknya ada 3 filosofi yang harus diperhatikan dalam menysusun KHL sebagai landasan penetapan upah minimum.
Pertama, kata Irianto, upah minimum adalah besaran gaji yang diperuntukkan bagi tenaga kerja lajang. "Namanya juga upah minimum, jadi pertimbangan berdasarkan kebutuhan paling minimum, paling inti yang harus dipenuhi. Jadi ini filosofinya untuk tenaga kerja lajang yang kebutuhannya baru untuk diri sendiri saja," jelas dia.
Kedua, lanjutnya, upah minimun adalah besaran gaji yang dihutung bagi tenaga kerja baru yang belum berpengalaman. "Upah minimum itu untuk upah buruh yang 0 tahun. Jadi jangan disalahkaprahkan," tambah dia.
Sementara hal yang ketiga adalah, upah minimum diperuntukkan bagi tenaga kerja tidak berpengalaman dan minim keterampilan. "Filosofi ketiga, upah minimum itu diperuntukkan bagi tenaga kerja buruh yang unskilled. Kalau dia punya kemampuan masa mau diupah UMP, masa gajinya tak akan dinaikkan. Ya kalau mau gajinya naik, keterampilannya harus bertambah," tandasnya.
Lewat pertimbangan itu, Irianto mengimbau agar para serikat buruh dapat lebih bijak dalam mengajukan usulan yang akan dimasukkan dalam KHL.
"Kalau minta parfum, itu ya nggak rasional lah. Dipikirkan lah yang benar-benar rasional. Misalnya kalau tak ada barang itu, dia (buruh/tenaga kerja) tidak bisa hidup. Yang diajukan untuk KHL harus dipertimbangkan 3 filosofi itu, biar hasilnya rasional," pungkas dia.
5. Buruh Wanita: Kami Perlu Mempercantik Diri dengan Parfum
|
|
Nyonya Ne (43), karyawan perusahaan tekstil PT Unitex Bogor ini mengaku tiga komponen tersebut merupakan kebutuhan penunjang produktivitas para buruh. Televisi, menurut Ne, dinilai mampu meningkatkan kapasitas wawasan dunia luar para buruh.
"Dulu itu radio 4 band, itu kan sudah enggak signifikan. Kita butuh hubungan informasi cepat. Kalau radio 4 band itu seperti pembodohan, tidak memberi kesempatan pada buruh untuk maju," kata Ne saat demo buruh kemarin.
Perempuan yang sudah bekerja selama 20 tahun ini juga menilai perusahaan seyogyanya memberikan pemenuhan biaya untuk parfum. Item ini menjadi perlu dengan alasan menjaga penampilan di lokasi kerja, terutama kenyamanan saat berhadapan dengan pimpinan.
"Pekerja juga perlu mempercantik diri, ketika beraktivitas banyak keringat keluar, komunikasi dengan pimpinan enggak mungkin juga buat tidak nyaman," ujar perempuan yang tergabung dalam Serikat Pekerja Nasional (SPN) ini.
Senada dengan Ne, Evi Susiati (45) pun mendukung ajuan komponen KHL berupa Televisi, parfum, dan pulsa. Alasan yang diajukan pun tidak jauh berbeda. "Parfum ya perlu untuk sehari-hari. Kalau ada teman yang bau badan bisa menganggu produktivitas kerja. Sedikit-sedikit keluar karena enek," ujar karyawan garmen di Cakung ini.
5. Buruh Wanita: Kami Perlu Mempercantik Diri dengan Parfum
|
|
Nyonya Ne (43), karyawan perusahaan tekstil PT Unitex Bogor ini mengaku tiga komponen tersebut merupakan kebutuhan penunjang produktivitas para buruh. Televisi, menurut Ne, dinilai mampu meningkatkan kapasitas wawasan dunia luar para buruh.
"Dulu itu radio 4 band, itu kan sudah enggak signifikan. Kita butuh hubungan informasi cepat. Kalau radio 4 band itu seperti pembodohan, tidak memberi kesempatan pada buruh untuk maju," kata Ne saat demo buruh kemarin.
Perempuan yang sudah bekerja selama 20 tahun ini juga menilai perusahaan seyogyanya memberikan pemenuhan biaya untuk parfum. Item ini menjadi perlu dengan alasan menjaga penampilan di lokasi kerja, terutama kenyamanan saat berhadapan dengan pimpinan.
"Pekerja juga perlu mempercantik diri, ketika beraktivitas banyak keringat keluar, komunikasi dengan pimpinan enggak mungkin juga buat tidak nyaman," ujar perempuan yang tergabung dalam Serikat Pekerja Nasional (SPN) ini.
Senada dengan Ne, Evi Susiati (45) pun mendukung ajuan komponen KHL berupa Televisi, parfum, dan pulsa. Alasan yang diajukan pun tidak jauh berbeda. "Parfum ya perlu untuk sehari-hari. Kalau ada teman yang bau badan bisa menganggu produktivitas kerja. Sedikit-sedikit keluar karena enek," ujar karyawan garmen di Cakung ini.
6. Buruh Harus Bayar Kost AC dan Cicilan Motor
|
|
Pria yang baru pertama kali ikut aksi ini ditemani sang istri, Rina (21). Dia bercerita mengenai upah yang didapat dengan biaya yang dikeluarkan selama sebulan. Menurutnya, dari gaji Rp 2,4 juta dia baru bisa menyisihkan Rp 500 ribu setelah dipotong kebutuhan setiap hari dan bulanan.
Untuk kebutuhan indekos saja, dia merogoh kocek Rp 700 ribu sebulan. "Kost-nya ada AC-nya," ujar karyawan yang telah bekerja selama 5 tahun ini.
Belum lagi kredit Motor Satria FU sebesar Rp 700 ribu sebulan. "Rp 500 ribu untuk istri. Itu juga masih kurang. Sisa Rp 500 ribu untuk ditabung," kata Rudi saat demo buruh kemarin.
6. Buruh Harus Bayar Kost AC dan Cicilan Motor
|
|
Pria yang baru pertama kali ikut aksi ini ditemani sang istri, Rina (21). Dia bercerita mengenai upah yang didapat dengan biaya yang dikeluarkan selama sebulan. Menurutnya, dari gaji Rp 2,4 juta dia baru bisa menyisihkan Rp 500 ribu setelah dipotong kebutuhan setiap hari dan bulanan.
Untuk kebutuhan indekos saja, dia merogoh kocek Rp 700 ribu sebulan. "Kost-nya ada AC-nya," ujar karyawan yang telah bekerja selama 5 tahun ini.
Belum lagi kredit Motor Satria FU sebesar Rp 700 ribu sebulan. "Rp 500 ribu untuk istri. Itu juga masih kurang. Sisa Rp 500 ribu untuk ditabung," kata Rudi saat demo buruh kemarin.
7. MS Hidayat: Parfum Bukan Kebutuhan Pokok
|
|
Menurut Hidayat, pada prinsipnya kebutuhan hidup layak akan disesuaikan terus menerus seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Tapi itu harus dipertimbangkan dengan tepat. Parfum menurutnya bukan kebutuhan pokok.
"Memang daftar KHL akan meningkat dan berubah terus disesuaikan dengan kriteria kebutuhan pokok yang disesuaikan terus menerus. Yang harus disepakati bersama adalah proritasnya dan apakah penambahan unit parfum itu kan gaya hidup bukan kebutuhan pokok," kata Hidayat kepada detikFinance.
Hidayat menegaskan, kalangan pelaku usaha menuntut buruh untuk terus meningkatkan produktivitasnya dalam bekerja. Itu semua menurutnya perlu dirundingkan bersama agar keberlangsungan usaha tetap terjaga.
"Di lain pihak, ada tuntutan juga dari pihak pengusaha untuk peningkatan produktivitas buruh, peningkatan daya saing produk, penambahan jam kerja mingguan dan sebagainya, yang juga harus dirundingkan agar eksistensi perusahaan terjaga," tegas Hidayat.
7. MS Hidayat: Parfum Bukan Kebutuhan Pokok
|
|
Menurut Hidayat, pada prinsipnya kebutuhan hidup layak akan disesuaikan terus menerus seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Tapi itu harus dipertimbangkan dengan tepat. Parfum menurutnya bukan kebutuhan pokok.
"Memang daftar KHL akan meningkat dan berubah terus disesuaikan dengan kriteria kebutuhan pokok yang disesuaikan terus menerus. Yang harus disepakati bersama adalah proritasnya dan apakah penambahan unit parfum itu kan gaya hidup bukan kebutuhan pokok," kata Hidayat kepada detikFinance.
Hidayat menegaskan, kalangan pelaku usaha menuntut buruh untuk terus meningkatkan produktivitasnya dalam bekerja. Itu semua menurutnya perlu dirundingkan bersama agar keberlangsungan usaha tetap terjaga.
"Di lain pihak, ada tuntutan juga dari pihak pengusaha untuk peningkatan produktivitas buruh, peningkatan daya saing produk, penambahan jam kerja mingguan dan sebagainya, yang juga harus dirundingkan agar eksistensi perusahaan terjaga," tegas Hidayat.
Halaman 2 dari 16











































