Natang Sherpa memilih hengkang dan beralih menjadi pebisnis rumah penginapan aklimatisasi di Namche Bazaar. “Dulu (pemandu) inilah pekerjaan terbaik, sekarang tidak lagi,” kata pemilik Moonlight Lodge ini, pada pekan lalu.
Sebenarnya berapa penghasilan seorang Sherpa? Dari sejumlah sumber diketahui bahwa pendapatan seorang Sherpa bisa mencapai US$ 6.000 atau sekitar Rp 60.000.000 per musim pendakian. Kalau kliennya bisa sampai ke puncak di ketinggian 8.848 meter, mereka bisa mendapatkan bonus besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski penghasilan terbilang besar, risikonya pun sepadan. Kematian terasa dekat dalam bisnis mereka. Tapi, sejarah mencatat nilai pertanggungan dari pemerintah Nepal sangat tak memadai bagi Sherpa yang celaka.
Sebagai contoh, untuk tragedi 18 April lalu, pemerintah Nepal awalnya hanya memberikan kompensasi sebesar US$ 10.000 kepada tiap keluarga korban. Untuk tragedi 7 Juni 1922 lebih parah lagi. Sebanyak tujuh Sherpa tewas saat memandu ekspedisi yang dipimpin Charles Bruce. Kompensasi untuk mereka tak sampai 60 Poundsterling, masing-masing.
Padahal, untuk tiap musim pendakian, pemerintah Nepal bisa meraup lebih dari US$ 3 juta hanya untuk biaya lisensi dan izin pendakian. Jadi bisa dimengerti sikap 400 Sherpa yang memutuskan mogok bekerja gara-gara tragedi 18 April, tepat pada saat musim pendakian baru saja dimulai.
Tingginya risiko membuat banyak Sherpa kemudian banting stir mencari pekerjaan lain, atau berbisnis seperti Natang Sherpa. Pria separuh baya ini sendiri tak meneruskan tradisi Sherpa kepada keturunannya. Putrinya telah merantau ke Amerika Serikat dan menjadi dokter di sana.
Banyaknya Sherpa yang alih profesi atau merantau, membuat profesi pemandu pendaki maupun porter dilirik oleh etnik lain di sekitar mereka. Sebagai contoh, dari 16 orang yang tewas dan hilang pada tragedi longsoran salju pada 18 April lalu, ternyata tiga orang di antaranya bukanlah dari kaum Sherpa.
Para Sherpa yang memilih merantau itu rupanya belajar dari para pendaki dari AS maupun Eropa, akan peluang kerja yang besar di barat. Phurba Sherpa adalah salah satunya. Dia bermukim di Carmel, New York, sejak 1989
Phurba Sherpa mengatakan, di New York para Sherpa itu tinggal di komunitas Rye, Croton Falls, dan Brewster. Phurba bilang, ada kemungkinan jumlahnya mencapai 1.200 orang.
Tapi Phurba juga memperkirakan ada 3.000 Sherpa lainnya yang tinggal di berbagai sudut New York, di luar tiga komunitas tadi. Mereka bahkan mempunyai koran sendiri yang disebut The Everest Times, yang oplahnya mencapai 2.000 eksemplar.
Para Sherpa itu tak punya sekolah khusus untuk melanjutkan tradisi leluhurnya. Biasanya mereka bersosialisasi satu sama lain, makan masakan khas seperti daal makhini atau momo. Pada perayaan tahun baru Losar, mereka akan bersembahyang di kuil Buddha.
Di Amerika Serikat, para Sherpa perantau itu menyukai kesenyapan dan ketidakpedulian orang lain terhadap satu sama lain. “Kalau di Nepal, setiap orang mau tahu urusan orang lain,” kata Lhakpa Sherpa, seorang pelukis dan pematung kayu di Patterson di Putnam County, kepada New York Times.
Tapi budaya di negeri rantau diakui mulai mengikis budaya Nepal dari diri keturunan mereka. Anak-anaknya mulai tak lancar berbahasa Nepal. Mereka pun mulai terserap ke dalam kebudayaan Amerika. Untuk menyikapi hal ini, para Sherpa itu berencana mendirikan sekolah kebudayaan di Carmel.
(DES/DES)











































