Menurut Bank Dunia, Indonesia berada di peringkat ke-85 dari 155 negara dalam hal infrastruktur. Bahkan tidak lebih baik dibandingkan Vietnam yang berada di rangking 72. Apalagi dengan Singapura yang menduduki posisi runner up.
Salah satu penyebabnya adalah belum memadainya anggaran untuk infrastruktur. Dari data Kementerian Keuangan yang dikutip detikFinance, anggaran infrastruktur tahun ini adalah Rp 206,3 triliun.
Jumlah ini lebih kecil dibandingkan anggaran subsidi yang lebih dari Rp 300 triliun. Bahkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) saja mendapat dana lebih besar yaitu Rp 210,7 triliun.
Dalam 5 tahun terakhir, anggaran infrastruktur memang mengalami peningkatan meskipun tidak signifikan. Pada 2009, realisasi belanja infrastruktur adalah Rp 76,3 triliun, kemudian naik menjadi Rp 86 triliun pada 2010. Kemudian pada 2011 adalah Rp 114,2 triliun, 2012 sebesar Rp 145,5 triliun, dan 2013 menjadi Rp 184,3 triliun.
"Infrastruktur kita masih kurang sekali. Jalan, pelabuhan, jembatan, bandara. Bila itu tidak terpenuhi maka sulit untuk dorong kualitas pertumbuhan, " tegas kata Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti, pekan lalu.
Infrastruktur, lanjut Destry, menjadi sangat krusial bagi pertumbuhan karena banyak komponen yang terpengaruh. Jika infrastruktur sudah memadai, pemerintah tidak perlu risau bila ingin memacu pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.
"Infrastruktur itu kan bersifat multiplier effect untuk ekonomi, ada banyak komponen di dalamnya. Pemerintah bisa dorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi tanpa ragu," katanya
Tanpa infrastruktur yang memadai, pertumbuhan ekonomi justru menyebabkan over heating dalam ekonomi. Pertumbuhan ekonomi malah menyebabkan inflasi tinggi, karena pergerakan barang dan jasa yang tidak lancar.
"Kalau akses distribusi dari sentra produksi ke pasar tidak bagus, harga akan terganggu sementara konsumsi terus bertambah. Akhirnya inflasi dan daya beli masyarakat terpengaruh," kata Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto.
Infrastruktur, tambah Eko, tidak harus terlalu berlebihan. Cukup jalan umum, pelabuhan, jembatan, dan infrastruktur dasar seperti irigasi sebagai penunjang produksi dari pangan.
(hds/DES)











































