Perbatasan Timor Leste: Rupiah Diacuhkan, Dolar Diagungkan

Perbatasan Timor Leste: Rupiah Diacuhkan, Dolar Diagungkan

- detikFinance
Jumat, 23 Mei 2014 12:49 WIB
Perbatasan Timor Leste: Rupiah Diacuhkan, Dolar Diagungkan
Foto: Pasar di Perbatasan Timor Leste (Maikel-detikFinance)
Atambua - Mata uang dolar Amerika Serikat (AS) laris manis digunakan di pasar perbatasan Indonesia-Timor Leste untuk transaksi jual beli. Berbanding terbalik dengan rupiah yang tak laku.

"Kalau bawa rupiah, belanja ke wilayah Timor Leste atau sekalipun ke Dili itu tidak laku," kata Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Atapupu Nyoman Ary Dharma di Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (23/5/2014).

Bahkan menurutnya, tempat penukaran uang resmi (money changer) yang tersedia di Dili tidak mau menerima rupiah. Bila pun ada, itu hanya money changer yang bersifat tradisional dan harganya pun sangat jauh sekali dari kurs yang ada.

"Kalau pun ada itu cuma yang di pinggir-pinggir jalan. Kalau yang resmi-resmi itu mana mau. Itu juga jatuh sekali harganya. Bisa US$ 1 harus dibeli dengan Rp 20 ribu," terangnya.

Nyoman menilai, ini adalah akibat paradigma yang buruk oleh masyarakat setempat terhadap rupiah. Apalagi dengan kondisi nilai rupiah yang jauh sekali dibandingkan dengan dolar ataupun mata uang lainnya.

"Tragis sekali memang, mereka melihat rupiah itu sudah tidak ada artinya. Jadi kalau bawa rupiah tunai ke sana ya siap-siap saja diacuhkan," imbuhnya.

Kondisi tersebut juga mempengaruhi masyarakat Indonesia sendiri yang hidup di perbatasan. Mengingat tingginya aktivitas perdagangan di perbatasan, masyarakat juga memasok dolar.

"Salah kita juga memang. Dolar itu diagung-agungkan. Kalau lecek sedikit itu langsung harganya jatuh. Padahal mereka itu punya dolar diremuk-remuk ya nilainya sama saja," imbuhnya.

Warga Atapupu Johannes kepada detikFinance menuturkan, kondisi ini benar terjadinya. Ia yang seringkali mengikuti aktivitas perdagangan di perbatasan mengatakan, penggunaan rupiah sudah hampir tidak ada. Banyak masyarakat menggunakan dolar AS.

"Ya begitu. Semua pakai dolar," sebut Johannes.

Ia pun hanya mengikuti apa yang sudah terjadi sebelumnya. Johannes mengaku tidak mengerti kenapa hal itu terjadi sampai sekarang. "Saya tidak tahu, dari dulu begitu. Saya ikut saja," tukasnya.

(mkl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads