Menurut catatan Kementerian Pertanian (Kementan), harga daging dan telur ayam pada minggu ke-3 April 2014 masing-masing mencapai Rp 17.258/kg dan Rp 14.925/kg. Sedangkan minggu ke-4 bulan Mei harga kedua produk tersebut masing-masing mencapai Rp 28.826/kg dan Rp 19.640/kg atau masing-masing telah naik 67% dan 31%.
"Telur dan daging ayam di Indonesia sudah lama swasembada, pasokan tersedia di mana-mana dan jumlahnya untuk kebutuhan sampai dengan Lebaran bulan Juli bahkan sepanjang tahun 2014 cukup," kata Ketua Umum Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) Don P Utoyo kepada detikFinance, Senin (9/06/2014).
Menurut catatan Don, hingga akhir tahun 2014 peternak ayam di Indonesia mampu memproduksi 2,4 juta hingga 2,5 juta ton ayam broiler. Sedangkan untuk telur ayam mampu diproduksi 1,5 juta hingga 1,6 juta ton.
"Telur ayam dan daging ayam broiler ini dapat diproduksi dengan jumlah yang cukup besar. Jajaran produsen perunggasan harus berupaya keras menjaga keseimbangan supply dan demand telur dan daging ayam," imbuhnya.
Ia menyebut salah satu penyebab tingginya harga daging dan telur ayam adalah karena aturan pemerintah khususnya Kementerian Perdagangan yang membatasi produksi anak ayam umur 1 hari atau Days Old Chicken (DOC) sebesar 15%. Tetapi kebijakan ini dinilai efektif karena harga di tingkat peternak jauh lebih tinggi daripada biasanya yang cenderung anjlok karena kelebihan produksi DOC.
"Kini supply DOC sudah tidak berlebihan," cetusnya.
(wij/hen)











































