S&P Naikkan Rating Utang RI

S&P Naikkan Rating Utang RI

- detikFinance
Rabu, 22 Des 2004 11:19 WIB
Jakarta - Lembaga pemeringkat utang internasional Standard & Poor's menaikkan peringkat utang Indonesia yakni untuk peringkat utang jangka panjang dalam valas dari B menjadi B+. Selain itu S&P juga menaikkan rating mata uang lokal Indonesia menjadi BB dari B+.Menurut siaran pers dari S&P, Rabu (22/12/2004), kenaikan rating dengan outlook positif ini terkait perkembangan stabilitas makro ekonomi Indonesia, manajemen fiskal yang baik, penurunan utang serta likuiditas eksternal yang baik. Perkembangan-perkembangan tersebut dinilai mampu mengurangi kerentanan pemerintah dalam beban utang pokoknya.Dengan mengesampingkan target defisit 2004 yang membengkak dari 1,2 persen menjadi 1,5 persen, S&P mengharapkan pemerintah tetap melanjutkan keseluruhan arah konsolidasi fiskal dan yang utama adalah surplus 2 persen PDB dapat terjaga."Meski subsidi BBM membengkak hampir 4 kali lipat sehubungan dengan melambungnya harga minyak dunia, namun pemerintah bertanggung jawab dengan memotong pengeluaran untuk menghindari membengkaknya defisit dan menjaga surplus yang utama pada perkiraan 1,8 persen pada tahun ini," ujat analis kredit S&P Agost Bernard.Kenaikan rating ini juga merefleksikan membaiknya likuiditas eksternal, dimana cadangan devisa hampir mencapai US$ 36 miliar hingga akhir tahun 2004. Meski surplus neraca berjalan diperkirakan lebih rendah, S&P mengharapkan pemerintah Indonesia mampu menjaga kecukupan likuiditas eksternal karena kondisi eksternal yang nyaman dan aliran investasi yang lebih baik pada tahun ini paska suksesnya pemilu. Hasilnya, S&P mengharapkan Indonesia mampu memenuhi jadwal amortisasi utang luar negerinya yang berat yang mencapai US$ 6,5 miliar setahun hingga beberapa tahun ke depan. Tantangan utama yang dihadapi oleh pemerintahan baru adalah menghidupkan kembali nafas perekonomian dimana pertumbuhan masih relatif rendah dan sempit dibandingkan dengan negara tetangga lainnya. Selain itu pertumbuhan dinilai belum cukup untuk mengurangi jumlah kemiskinan dan pengangguran."Fundamental makro ekonomi Indonesia berada pada taraf yang baik untuk bisa mencapai pertumbuhan yang lebih cepat dan lebih luas dibandingkan rata-rata 4,1 persen selama 5 tahun terakhir, dimana pertumbuhan terutama masih didorong oleh konsumsi domestik," ujar Bernard. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads