Ini Alasan Pembangunan Terowongan Cadas Pangeran di Bandung-Sumedang

Ini Alasan Pembangunan Terowongan Cadas Pangeran di Bandung-Sumedang

- detikFinance
Jumat, 13 Jun 2014 16:12 WIB
Ini Alasan Pembangunan Terowongan Cadas Pangeran di Bandung-Sumedang
Bogor - Opsi membangun terowongan akhirnya dipilih oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dalam rencana bagian pembangunan ruas tol Cisumdawu seksi II, Jawa Barat.

Keberadaan terowongan punya andil bagi proyek tol yang akan membentang 60 Km dari Cileunyi, Kabupaten Bandung hingga ke Bandara Kertajati, Majalengka.

Dirjen Bina Marga Kementerian PU Djoko Murjanto mengatakan selain memperpendek jarak tempuh kedua wilayah tadi, keberadaan terowongan juga akan mempermudah kendaraan besar untuk dapat melintas dari Bandung-Sumedang dan sebaliknya.

Selama ini kendaraan besar harus melintasi jalan nasional (jalan umum) Cadas Pangeran yang kondisinya rawan dan konstruksi jalan yang menempel pada tebing. Keberadaan tol berikut terowongan juga akan memangkas waktu tempuh dari Bandung-Sumedang 27 Km yang saat ini mencapai 2 jam bisa dipangkas hingga 15 menit, juga akan membuat landai jalur tol.

"Terowongan itu bukan hanya memperpendek jarak, tapi juga membuat kontur (tol Cisumdawu) lebih rata. Kan tadinya naik turun nggak rata. Nah terowongan ini cenderung lebih landai, jadi memudahkan orang juga untuk bisa lewat," kata Djoko kepada detikFinance di Padjadjaran Suites Hotel, Bogor, Kamis malam (12/6/2014)

Djoko mengatakan untuk Tol Cisumdawu seksi II, dana yang dibutuhkan untuk membangun tol sepanjang 17,51 km dari Tanjungsari hingga Sumedang mencapai Rp 2 triliun yang diperoleh dari pinjaman Tiongkok.

Pencairan pinjaman dari Tiongkok masih menunggu proses lelang seksi II dan terowongan. Setelah adanya perjanjiaan dengan kontraktor, maka perjanjian pinjaman dapat dicairkan.

"Kita masih belum tahu kapan pastinya. Yang jelas pada tahun anggaran ini kita harus lelangkan keduanya," pungkasnya.

Kepala Satker Pelaksanaan Pembangunan Jalan Bebas Hambatan Cisumdawu, Subagus Dwi Nurjaya pernah menjelaskan sebelum pemerintah memutuskan membangun terowongan, ada beberapa opsi untuk menghindari adanya konstruksi terowongan terutup, yaitu opsi memindahkan trase sisi Tanjungsari dan sisi Sumedang, namun tak mungkin karena akan banyak mengubah trase lahan yang sudah dibebaskan.

Opsi lainnya yang juga tak jadi, adalah membangun lintasan terowongan terbuka dengan menggali bukit hingga kedalaman 50-60 meter, dengan risiko kerusakan ekosistem, potensi longsor yang tinggi karena lahan di lokasi merupakan tanah lunak.

"Kalau kita gali ke dalam 60 meter, saya akan punya lereng yang sangat curam, pasti tak stabil, kalau dipaksakan ngeri juga," kata Subagus.

Menurutnya opsi membangun terowongan awalnya terdiri beberapa opsi, awalnya terowongan tertutup akan dibangun lebih dari 1 Km. Namun karena pertimbangan efisiensi maka dicari lokasi yang lebih pendek untuk membangun terowongan.

"Tadinya ada dua lokasi yang panjang terowongannya 1,05 km dan 1,2 km setelah dievaluasi dan perimbangan engineering, opsi yang panjang 1,2 km dihilangkan, namun yang 1,05 km ditekan jadi hanya 500 meter saja," katanya.

Terowongan Cadas Pangeran dirancang sepanjang 500 meter di bawah perut perbukitan kawasan Cadas Pangeran. Terowongan ini disebut-sebut sebagai terowongan tol terpanjang dan pertama (terowongan tertutup) di Indonesia. Keberadaan terowongan yang menjadi bagian jaringan tol seksi II proyek Tol Cisumdawu akan menjadi alternatif jalan umum cadas pangeran yang rentan longsor

Tol Cisumdawu akan dibangun sepanjang 60,28 km dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp 5 triliun. Rencana konstruksi akan dibagi dalam enam seksi yaitu seksi I Cileunyi-Tanjungsari sepanjang 9,80 km, seksi II Tanjungsari Sumedang sepanjang 17,51 km, Seksi III Sumedang-Cimalaka 3,73 km, Seksi IV Cimalaka-Legok 6,96 km, Seksi V Legok-Ujungjaya 16,35 km, dan seksi VI Ujungjaya-Kertajati sepanjang 4 km.

(hen/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads