Jelang Natal, Harga Kebutuhan Pokok Merangkak Naik
Kamis, 23 Des 2004 13:51 WIB
Jakarta -
Harga barang kebutuhan pokok menjelang hari raya natal dan tahun baru beranjak naik. Tampaknya kenaikan sejumlah produk itu juga dipicu oleh kenaikan harga elpiji. Para pedagang juga mengeluhkan kenaikan elpiji yang membuat pengunjung pasar relatif turun."Pak, akibat elpiji naik daya beli masyarakat turun. Pembeli banyak yang mengurangi pembelian bahan kebutuhan pokok, ya jadinya pasar agak sepi," kata Tono salah seorang pedagang kepada Menteri Pertanian Anton Apriantono saat mengunjungi pasar unit usaha Jatinegara Mester, Jakarta Timur, Kamis (23/12/2004).Menteri Pertanian hari ini selain berkunjung ke pasar Jatinegara juga berencana untuk mengunjungi pasar induk beras Cipinang dan rumah potong hewan di Cakung. Tujuan kunjungan ini selain untuk memantau harga barang kebutuhan pokok juga untuk mendeteksi aliran barang-barang impor yang masuk ke pasar tradisional.Anton Apriantono sempat mengalami kebingungan pada saat berdialog dengan seorang pedagang daging jeroan. Pasalnya pedagang tersebut mengaku jeroan yang dijualnya bukan merupakan jeroan impor karena dirinya mengambil dari Darmajaya, Cakung. "Kalau bukan dari impor lantas kemana ya larinya jeroan impor," tanya Anton.Dari hasil pengamatannya, lanjut Anton, secara umum pasokan barang saat ini cukup stabil meskipun ada beberapa barang kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan. Namun untuk pasokan sayur-mayur ditengarai pasokannya berkurang."Kalau untuk harga cabe merah yang harganya naik dari Rp 6.000 per kilogram menjadi Rp 11.000 per kilogram akan membuat petani lebih berkecukupan. Kemudian telur justru harganya turun dari Rp 8.500 per kilogram menjadi Rp 8.000 per kilogram," ujarnya.Sementara untuk daging ayam mengalami kenaikan harga. Kenaikan ini menurut Anton disebabkan banyaknya pegawai pemotongan ayam yang libur sehingga suplainya berkurang. Harga minyak goreng curah turun dari Rp 5.000 per liter menjadi Rp 4.800 per liter.Mentan sendiri mengaku agak aneh dengan harga gula pasir yang harganya naik dari Rp 4.500 per kilogram menjadi Rp 5.000 per kilogram. "Mungkin ini karena mekanisme pasar dalam perdagangan sehingga harga gula naik," ujarnya.
(san/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































