Kereta ekspres tersebut akan melayani rute sepanjang 33,68 kilometer (km). Proyek kereta ekspres yang rencananya mulai dibangun tahun 2015 ini, memiliki rute layang (elevated) dan bawah tanah (underground).
Meski 90% lebih adalah jalur layang dan dibangun 6-7 meter di atas tanah namun Kemenhub selaku penanggungjawab proyek memastikan tingkat kebisingan yang sangat minim. Sehingga saat kereta beroperasi pada tahun 2019 nanti, kereta ekspres bandara tidak mengganggu warga di sepanjang jalur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kontraktor proyek nantinya memakai beberapa teknologi untuk memperkecil level kebisingan. Teknologi yang dipakai antara lain adalah dinding noise barrier hingga lapisan karet pada dasar rel.
"Pada struktur jembatan beton. Kita kasih lapisan karet. Setelah beton baru dicor pakai karet. Kemudian di dinding, akan dipasang noise protection," jelasnya.
Teknologi tersebut diyakini tidak mengganggu kenyamanan warga di sekitar jalur kereta ekspres.
"75 desibel batas maksimal suara," sebutnya.
Hanggoro juga menuturkan terkait proses konstruksi jalur layang. Kontraktor akan memanfaatkan konsep beton precast hingga teknologi pembuatan tiang layang terkini. Langkah ini dilakukan agar tidak mengganggu lingkungan selama proses konstruksi.
"Sistem pakai bore pile, jadi minimizing gangguan lingkungan. Metode kerja hati-hati. Kita minimize aktivitas di bawahnya," paparnya.
Apalagi untuk moda kereta yang dipakai merupakan kereta listrik. Akibatnya tingkat suara yang dihasilkan relatif kecil. Selain itu, jalur kereta ekspres hanya dipakai bandara sehingga tidak ada kereta lain yang memanfaatkan jalur sepanjang 33 km tersebut.
"Jalur kereta dedicated untuk kereta bandara, nggak ada KRL atau kereta barang," ujarnya.
(feb/ang)











































