Bayu mengatakan, rendahnya inflasi jelang ramadan dan lebaran adalah prestasi yang membanggakan. Menurutnya ini harus dipertahankan.
"Kalau kita lihat dalam sejarah yang panjang di Indonesia, menjelang ramadan, biasanya tingkat inflasi sangat tinggi. Tahun ini bisa di bawah 1%, ini prestasi yang baik. Perlu dipertahankan," ujar Bayu dalam paparannya di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (5/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertama dari beberapa produk pertanian yang menjadi kenutuhan konsumsi mengalami penundaan panen. Sehingga, kita berada pada bulan ramadhan yang bertepatan dengan musim panen. Stok aman," kata dia.
Kedua, lanjut Bayu, pelemahan pertumbuhan di sektor retail menyebabkan pasokan untuk rumah tangga tersedia cukup melimpah dan dapat memenuhi permintaan yang ada.
"Terjadi pelemahan pertumbuhan sektor retail sekitar 7,5-8% dibanding tahun lalu sampai 11-12%," kata dia.
Ketiga adalah keberhasilan dari perubahan strategi dalam mempersiapkan pasokan bahan kebutuhan pokok jelang ramadan di tahun 2014 ini.
"Kemendag mengubah strategi, dari yang semula 3 bulan sebelum idul fitri menjadi 3 bulan sebelum ramadan. Jadi maju satu bulan. Ini cukup efektif karena mampu menjawab kebutuhan yang di bulan ramdannya," sambungnya.
Keempat, lanjutnya adalah kontribusi dari pasar modern yang cukup mampu mengendalikan harga.
"Keberadaan pasar modern atau yang bahasa perdagangannya itu pasar swalayan jukam memberi dampak positif. Saat ini kontribusinya 30-35% dari kebutuhan masyarakat," pungkas dia.
(zul/hds)










































