"Pertumbuhan ekonomi 5,12% itu tentu tidak terlepas adanya situasi global dengan kondisi dunia akhir-akhir ini. Situasi ekonomi global masih mengalami konsolidasi," kata CT, sapaan Chairul Tanjung, saat konferensi pers di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/8/2014).
Perekonomian global yang masih menantang, lanjut CT, terlihat dari proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) yang terus berubah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserves untuk mengurangi stimulus juga berpengaruh terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Normalisasi kebijakan The Fed dengan cara quantitative easing yang sudah dikeluarkan selama ini ditarik kembali. Ada yang dapat benefit, ada yang tidak benefit. Ekonomi negara-negara berkembang cenderung melambat," kata CT.
Lebih jauh dia menjelaskan, ekonomi Tiongkok yang selama ini tumbuh dua digit juga saat ini 'hanya' bisa mencapai 7,5%. Perlambatan ekonomi Tiongkok tentu berpengaruh, karena Negeri Tirai Bambu ini merupakan mitra dagang utama Indonesia.
"Emerging countries seperti Tiongkok biasanya tumbuh double digit sekarang hanya 7,5%. Ini berdampak ke kita," tutur CT.
Meski demikian, CT menilai konsumsi rumah tangga masih mampu diandalkan untuk menopang perekonomian Indonesia. Pada kuartal II-2014, konsumsi mampu tumbuh 5,59%.
"Mungkin ini efek kampanye, baik pileg atau pilpres. Kalau kampanye banyak uang beredar di masyarakat sehingga daya beli tinggi. Dengan income meningkat, maka daya beli meningkat sehingga pertumbuhan ekonomi lebih tinggi," papar dia.
Selain itu, tambah CT, investasi juga tercatat masih meningkat di tengah hiruk-pikuk pesta demokrasi. "Di era kampanye pileg dan pilpres, ternyata investasi kita masih lebih tinggi dari tahun lalu. Jadi kekhawatiran investasi akan melambat di pilpres atau pileg itu tidak terbukti, malah lebih tinggi," jelasnya.
(drk/hds)











































