Warga Gaza Harus Beli Sembako dengan Harga Mahal

Warga Gaza Harus Beli Sembako dengan Harga Mahal

- detikFinance
Minggu, 10 Agu 2014 10:06 WIB
Warga Gaza Harus Beli Sembako dengan Harga Mahal
Foto: Reuters
Jakarta - Konflik Israel-Hamas di Jalur Gaza menjadi sorotan dunia. Pertikaian ini membuat hidup mereka yang tinggal di Gaza menjadi sangat memilukan.

Masyarakat Gaza kehilangan orang-orang tercinta, rumah, sekolah, pekerjaan, dan sebagainya. Tak cukup sampai di situ, mereka kini harus membeli kebutuhan pokok dengan harga selangit.

Di sebuah pengungian di daerah Shati, ada sebuah pasar. Terlihat para pengungsi di sana hanya mampu membeli kebutuhan pokok dalam jumlah sedikit karena harganya naik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Serangan Israel telah menghantam daerah-daerah penghasil pangan baik pertanian maupun peternakan. Akibatnya, pasokan menjadi berkurang sehingga harga pun meroket.

Tidak hanya para petani, distrubutor pun sulit meyalurkan kebutuhan pokok kepada masyarakat. Bahan pangan yang diangkut dengan truk sangat rentan menjadi sasaran roket, sehingga para distributor pun takut beroperasi. Hal ini juga membuat harga di tingkat konsumen naik.

Khaled Ighrad, salah salah pengungsi, menyebutkan dia harus membeli kebutuhan pokok untuk istri dan 6 orang anaknya. Namun karena harga naik tinggi, dia pun harus berhemat.

Harga telur, misalnya, naik 2 kali lipat sejak serangan Israel pada 8 Juli lalu. Biasanya harga sekotak telur adalah 10 shekel (Rp 30.000), tetapi sekarang menjadi 20 shekel.

"Saya tidak membeli sekotak telur, tetapi setengah. Harga-harga naik tinggi karena kebutuhan pokok seperti daging dan telur diproduksi di daerah perbatasan. Kami tidak bisa lagi ke perbatasan," papar Ighrad seperti dikutip AFP, Minggu (10/10/2014).

Abu Ahmed Badawi, seorang pedagang di pasar Shati, mencontohkan harga kentang sebelum konflik meletus adalah 1 shekel per kg. Kini, harganya naik menjadi 3 shekel per kg.

"Sangat sulit bagi masyarakat Gaza, karena kami tidak punya uang dan pekerjaan. Praktis tidak ada kegiatan ekonomi di sini," tegas Badawi.

Mahir al Tabaa, Ketua Kamar Dagang dan Isdustri Gaza, sepakat bahwa konflik ini menyebabkan kerugian yang amat besar. "Kerugian secara langsung adalah ketika Israel menghancurkan pusat-pusat ekonomi, industri, dan perumahan. Nilainya ditaksir US$ 3 miliar," katanya.

Selain itu, lanjut al Tabaa, ada 350 pabrik yang hancur akibat konflik Israel-Hamas yang menyebabkan angka pengangguran melejit. "Saat ini angka pengangguran mungkin sekitar 50%, jumlahnya sekitar 200.000," ucapnya.

(hds/hds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads