Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Franciscus Welirang mengungkapkan, kemudahan akses menjadi salah satu kendala dalam pendistribusian bahan pangan di Indonesia.
Padahal, Indonesia dikenal sebagai negara pertanian dan maritim dengan area pertanian yang luas terdiri atas enam zona dan memiliki potensi sangat besar. Namun dalam pengembangannya masih banyak kendala yang dihadapi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seluruh produk pertanian mayoritas larinya ke Jawa. Ke Sulawesi harus ngangkut lama dan harganya mahal, sama dengan angkut dari AS ke Jawa. Kita harganya tiga kali lipat lebih mahal. Ini tantangan, akhirnya kita tidak bisa mengembangkan. Biaya angkutan jadi kendala," ujar Franky.
Selain itu, Franky menjelaskan, ketahanan pangan juga belum terwujud akibat masih tingginya impor.
"Indonesia impor 3 juta ton jagung per tahun. Ketahanan pangan itu musiman. Kebijakan pemerintah harus memperhatikan juga pasca panen. Kita masih memperjuangkan bagaimana bisa menyimpan produk kita lebih lama agar sampai ke konsumen masih baik. Ini realita di lapangan. Kita harus eksploitasi petani kalau pangan kita mau maju," jelas dia.
Selain soal akses yang minim, yang menjadi hambatan lainnya adalah kurangnya pasokan listrik. Kementerian Perdagangan mengeluhkan minimnya pasokan listrik di dalam negeri yang menyebabkan terhambatnya perkembangan industri di berbagai sektor.
Menteri Perdagangan M Lutfi mengaku, pasokan listrik yang minim membuat industri dalam negeri kalah bersaing. "MP3EI itu perencanaan pembangunan infrastruktur. Yang penting itu listrik, pelabuhan baik darat, udara, laut, industri, semua ini penting. Paling penting itu listrik karena tanpa energi dan listrik ini kita tidak bisa menciptakan industri," terangnya.
Dia menjelaskan, saat ini rata-rata pasokan energi di Indonesia hanya 216 watt per kapita. Jauh lebih rendah dari Jepang yang mencapai 2.000 watt per kapita.
"Kita mau bicara distribusi. Tanpa listrik nggak bisa jalan. Pasokan kita hanya 216 watt per kapita sementara kita perlu 100 ribu MW hari ini. Jepang saja 2.000 watt per kapita," katanya.
Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo menambahkan, salah satu hambatan ketahanan energi Indonesia adalah soal listrik. Pasokan yang minim diperlukan untuk mendorong energi terbarukan sebagai alternatifnya.
"Di mana pun kalau kita ingin maju maka listrik harus ada. Suka tidak suka ke depan 65% listrik akan dibangkitkan dengan batu bara. Yang tidak kalah pentingnya masalah penghematan. Apapun yang kita lakukan harus hemat, menghemat 1 jam listrik sehari, ini akan mengurangi beban," kata Susilo.
(drk/hds)











































