Sumber daya manusia merupakan satu hal yang harus dipenuhi untuk peningkatan kualitas sistem logistik Indonesia yang berbasis transportasi laut dan pelabuhan. Namun, Indonesia bahkan belum bisa memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang bertugas sebagai juru tarik tali kapal.
"Penarik tali kapal-kapal besar di lepas pantai, misalnya di tambang-tambang lepas pantai itu masih impor. Ada yang dari Filipina, Bangladesh," kata Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinasi Perniagaan dan Kewirausahaan Edy Putra Irawady di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (23/9/2014).
Ia menjelaskan, kondisi ini terjadi lantaran belum ada tenaga kerja Indonesia yang memiliki sertifikasi internasional untuk profesi tersebut. Padahal, tugasnya hanya menarik tali dari kapal yang akan merapat ke tambang di lepas pantai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai solusi, saat ini pemerintah tengah menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan internasional untuk memberikan pendidikan kepada tenaga kerja asal Indonesia agar memiliki keterampilan dan kompetensi yang sepadan dengan tenaga kerja dari negara lain.
"Salah satunya kita kerjasama dengan Unilever dan beberapa perusahaan lain. Kita sekolahkan tenaga-tenaga kita ke sana untuk dapatkan sertifikat, karena tanpa itu SDM kita nggak menjual," tegasnya.
"SDM harus menjadi salah satu hal yang urgent untuk segera ditingkatkan oleh pemerintahan baru untuk memajukan industri maritim Indonesia," pungkasnya.
(hds/hds)










































