Menyedihkan, Teri Medan Dihantam Teri Thailand

Menyedihkan, Teri Medan Dihantam Teri Thailand

Wiji Nurhayat - detikFinance
Senin, 29 Sep 2014 07:24 WIB
Menyedihkan, Teri Medan Dihantam Teri Thailand
Jakarta - Siapa sangka ikan teri Medan yang terkenal, ternyata popularitasnya kalah dengan teri impor dari Thailand. Meski menurut pemerintah teri impor ilegal, namun nyatanya dijual bebas di sejumlah pasar.

Menurut data Kementerian Perdagangan, ada 4 negara jadi pemasok ikan asin ke Indonesia. Mereka adalah Singapura, Hong Kong, Inggris, dan Jepang.

Mantan Pengurus DPP Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) 2000-2007, bidang Industri UKM, yang juga Direktur Utama PT Revaindo Internasional sebagai perusahaan eksportir ikan asin, Gunato Cipto mengungkapkan, ada dampak buruk jika Indonesia terus mengimpor ikan teri asin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya akui Thailand punya ikan teri lebih bagus dari kita. Tetapi kalau kita impor terus dampak dirasakan di tingkat nelayan," kata Cipto kepada detikFinance, Kamis lalu (25/09/2014).

Menurutnya yang paling dikhawatirkan adalah harga ikan teri impor Thailand lebih murah ketimbang teri lokal. Harga teri lokal per kg saat ini Rp 25.000/kg sedangkan teri impor Thailand Rp 15.000/kg. Murahnya harga teri impor Thailand diyakini dapat merusak harga teri lokal.

"Nelayan tidak tahu adanya teri impor. Teri impor ini masuk melalui daerah lain, dengan harga yang lain juga. Teri impor masuk, awas loh harga akan anjlok," paparnya.

Ikuti cerita soal teri Thailand yang menghantam teri Medan atau teri lokal lainnya, seperti dirangkum detikFinance, Senin (29/9/2014).

1. Data Indonesia Impor Ikan Asin

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag) memang tak tercatat impor ikan asin dari Thailand atau Myanmar. Kemendag hanya mencatat, dalam 6 tahun terakhir (2009-2014) Indonesia rutin mengimpor ikan asin dari 4 negara. Periode Januari-Juli 2014 importasi ikan asin sudah mencapai US$ 53.229 dengan volume 1.242 kg.

Pemasoknya antara lain dari Inggris, satu-satunya negara Eropa ini menyuplai ikan asin ke Indonesia pada tahun 2014 dengan nilai US$ 39.806 sebanyak 800 kg.

Sebelumnya, Jepang juga mengekspor ikan asinnya ke Indonesia di 2009 sebanyak 119.380 kg, 2010 mencapai 34.531 kg, 2011 sebanyak 5.490 kg dan 2012 capai 5.202 kg dengan nilai masing-masing US$ 515.752 (2009), US$ 138.169 (2010), US$ 29.262 (2011) dan US$ 27.727 (2012).

Indonesia juga mengimpor ikan asin dari Hong Kong. Hong Kong menyuplai ikan asin ke Indonesia hanya pada tahun 2012 dengan nilai US$ 1.715, sebanyak 1.509 kg. Bahkan Singapura tertacat pernah mengirim 4 kg ikan asin 2011 dan 111 kg di 2012 dengan nilai masing-masing US$ 35 dan US$ 2.372.

2. Meski Mahal, Teri Thailand Laris

Teri impor asal Thailand dijual lebih mahal dibandingkan teri lokal. Meskipun begitu, para pedagang ikan asin di sentra penjualan ikan asin Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara mengaku, pembeli ikan teri asin impor Thailand lebih banyak dibandingkan teri lokal. Apa alasannya?

"Lebih mahal Rp 10.000/kg teri impor. Tetapi kalau ditimbang teri impor Thailand ini lebih banyak dibandingkan teri lokal," ungkap Nurdin salah satu penjual ikan asin impor Thailand di pasar tersebut.

Harga teri impor asal Thailand yaitu teri jengki dan teri buntio, saat ini dipatok pedagang Rp 60.000/kg. Sedangkan teri lokal dengan kualitas hampir sama dijual Rp 50.000/kg. Saat ditimbang terlihat kuantitas teri impor Thailand jauh lebih banyak dibandingkan teri lokal.

"Kalau teri impor ini keringnya bagus, jadi ditimbang ringan dan jauh lebih banyak. Kalau teri kita keringnya masih setengah, jadi agak berat kalau ditimbang," paparnya.

Nurdin juga mengungkapkan, pembeli teri impor Thailand beragam, mulai dari rumah tangga sampai usaha jenis katering.

"Kalau teri lokal hanya ibu rumah tangga saja yang beli. Yang impor ini banyak yang beli mulai dari rumah tangga sampai usaha jasa katering," jelasnya.

3. Rahasia Teri Thailand Laku keras

Beberapa pedagang ikan asin di Sentra Penjualan Ikan Asin Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara mengakui, kualitas teri impor asal Thailand yaitu Jengki dan Buntio lebih bagus ketimbang teri lokal Medan. Apa rahasianya?

"(Teri Thailand) Lebih kering dan kualitas bagusm karena mereka pakai dryer (mesin pengering). Ikan asin kita dikeringkan hanya pakai sinar matahari," kata Suhendi salah satu penjual ikan asin impor Thailand di pasar tersebut.

Selain itu, proses pengeringan ikan teri Thailand sama sekali tidak diberi garam, sehingga tidak asin. Rasa tawar ini yang memberikan nilai tambah, karena konsumen lebih tertarik membeli ikan kering tawar ketimbang yang asin.

"Ikan asin kita pakai garam dalam proses pengeringan. Kadang-kadang rasanya asin sekali. Kalau teri impor ini rasanya tawar jadi lebih enak dan pas kalau diberikan bumbu masakan lain," paparnya.

Suhendi mengaku, berjualan ikan teri asin Thailand lebih menguntungkan dibandingkan teri lokal. Per hari, Suhendi dapat menjual 100 kg ikan teri asin Thailand. Sementara penjualan ikan teri asin lokal hanya 40-50 kg.

Karena menggunakan mesin pengering dan tanpa garam, Suhendi mengungkapkan, daya tahan ikan teri asin Thailand jauh lebih lama dibandingkan teri lokal.

"Ikan teri asin Thailand bisa tahan 2,5 tahun, kalau teri asin Medan kita paling lama tahan 1 tahun. Karena kalau dia di kardus itu langsung berubah warna merah dan sedikit berbau," jelasnya.

4. Dalam Sehari, Teri Thailand Bisa Laku 100 Kg

Permintaan ikan teri asin impor asal Thailand di dalam negeri tinggi. Dalam sehari, pedagang bisa menjual 100 kg teri impor asal Thailand.

Suhendi, seorang pedagang ikan teri asin di Sentra Penjualan Ikan Asin Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara mengatakan, ikan teri Thailand ini datang dengan kardus berisi 50 kg.

Sejak tahun 2012, pembelian ikan teri asin impor Thailand oleh pedagang dibatasi, minimal hanya 5 kardus per minggu.

"Sekarang dibatasi oleh agen, seminggu hanya 5 kardus," kata Suhendi kepada detikFinance.

Suhendi tidak tahu apa alasan pengurangan jatah pembelian ikan teri asin impor. "Padahal per hari kita mampu jual 100 kg teri asin buntio dan jengki. Tetapi karena dibatasi ya mau bagaimana lagi," imbuhnya.

Suhendi mengaku biasa mendapatkan ikan teri asin dari agen besar di wilayah Cengkareng, Jakarta Barat. Satu kardus berisi 50 kg ikan teri asin Thailand dijual dengan harga Rp 520.000.

"Kalau dijual per kg harganya Rp 60.000 jadi saya untung Rp 8.000/kg," katanya.

Di tempat yang sama, salah satu pembeli ikan teri asin impor Rahmawati mengungkapkan alasannya lebih memilih membeli ikan teri asin impor. Menurutnya kualitas dan rasa ikan teri asin impor lebih baik dibandingkan teri lokal.

"Meskipun lebih mahal tetapi teri impor ini lebih gurih, renyah dan tidak asin. Saya lebih suka teri ini (teri impor) dibandingkan yang putih itu (teri lokal medan)," jelasnya.

5. Teri Impor Barang Ilegal!

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan, ikan teri asin impor jenis jengki dan bautio asal Thailand barang ilegal.

Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) KKP Saut P Hutagalung beralasan, pemerintah sejak tahun 2011 tidak pernah mengeluarkan rekomendasi izin impor ikan asin jenis teri.

"Harusnya begitu (barang ilegal). KKP memang tidak ada keluarkan izin impor sejak tahun 2011," kata Saut kepada detikFinance.

Saut menjelaskan, ketentuan pengendalian impor telah diatur dalam Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan Nomor 15 Tahun 2011, dan Keputusan Dirjen Pengolahan dan Permasaran Hasil Perikanan KKP No. 231/2011 tentang Pengaturan Jenis-Jenis Ikan yang Dapat Diimpor tanggal 4 Juli 2011.

Sedangkan rekomendasi izin atas importasi ikan teri asin sudah tidak dilakukan sejak pemberlakuan Permen 15 di 2011.

"Pengendalian impor ini perlu sekali kita lakukan, untuk melindungi pasar dalam negeri dan untuk kepentingan nelayan," imbuhnya.

Lebih lanjut Saut menambah, dari segi produksi, ikan teri asin cukup melimpah bahkan bisa diekspor keluar negeri.

"Produksi ikan teri kita cukup banyak untuk konsumsi lokal bahkan juga untuk ekspor," katanya.

Sementara itu, Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan (Kemendag) Partogi Pangaribuan menegaskan, mekanisme izin impor ikan asin tidak diterbitkan Kemendag, sepenuhnya diserahkan kepada KKP.

"Kalau di (Kementerian) Perdagangan tidak pernah kita atur. Mereka (KKP) yang mengeluarkan izin ya," pungkasnya.

Ikan teri impor, terutama asal Thailand banyak terdapat di dalam negeri. Bahkan teri ini lebih laku dibandingkan teri lokal.

6. Meski Ilegal Kok Teri Thailand Mudah Ditemui?

Ikan teri asin asal Thailand mudah ditemui di Jakarta. Hal itu disebabkan karena regulasi impor ikan teri asin tidak memerlukan syarat khusus.

"Di Jakarta ikan teri asin paling banyak. Impor ikan teri asin nggak perlu izin khusus," ungkap Mantan Pengurus DPP Himpunan Nelayan Indonesia (HNSI) 2000-2007 Bidang Industri UKM sekaligus Direktur Utama PT Revaindo Internasional, Gunato Cipto.

Cipto mengatakan, importasi ikan teri asin asal Thailand dilakukan secara legal. Padahal pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengklaim sudah menutup izin impor ikan teri asin sejak 2011.

"Impor resmi, bukan ilegal. Sekarang siapa mau impor ikan teri juga bisa asal harga cocok," imbuhnya.

Mengenai harga, ikan teri asin Thailand lebih murah dibandingkan ikan teri lokal. Harga ikan teri Thailand hanya Rp 15.000 per kg. Sementara itu ikan teri lokal atau teri Medan harganya bisa mencapai Rp 25.000 per kg.

"Ikan teri asin impor ini kan dibanding harga lokal kalau lebih murah. Tentu orang impor mekanismenya kan begitu," tuturnya.
Halaman 2 dari 7
(dnl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads