Pertanian menjadi sektor yang penting saat ini, mengingat Indonesia masih mengimpor bahan-bahan pertanian, bahkan hingga peternakan.
Dari seleksimenteri.com yang dilakukan oleh detik.com. Ada sejumlah nama calon menteri pertanian yang dipilih. Nama-nama tersebut adalah Bayu Krisnamurthi, Dwi Andreas Santosa, Nurdin Abdullah, dan Rusman Heriawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari informasi yang didapat detikFinance saat berkunjung ke Banteng, Nurdin yang menjadi Bupati sejak 2008 ini bertekad memajukan pertanian Bantang karena penyakit Tungro tanaman padi yang terjadi di wilayah tersebut.
Kala itu, sekitar 600 hektar tanaman padi di Bantaeng terserang penyakit Tungro, dari total luas sawah 7.500 hektar. Ini akibat bantuan benih unggul yang kurang tepat, dan transfer teknologi yang sangat minim.
Nurdin menggunakan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, mengubah sektor pertanian di Bantaeng. Bahkan sekarang dia membuat zona-zona potensi pertanian unggulan.
Zona 1 merupakan area pantai dan sekitarnya dengan fokus produk rumput laut. Zona 2 merupakan area dataran rendah dan sedang dengan menitikberatkan produksi jagung, kacang, ubi, dan padi. Zona 3 merupakan daerah tinggi dengan produk stroberi, apel Malang, dan sayur mayur.
"Tanah kita luas, varietas tanaman kita banyak, sumber daya kita banyak, tapi kita masih terus impor. Benih saja kita impor. Ini pasti ada salah urus," kata Nurdin dalam perbincangan dengan detikFinance, September lalu.
Selain itu, Nurdin juga melakukan terobosan-terobosan dalam pemasaran hasil pertanian. Contoh nyata adalah ekspor talas ke Jepang. Dengan adanya pasar talas di Jepang, saat ini banyak warga yang menanam talas. "Dulu kami mencari bibit talas dengan kualitas yang diinginkan Jepang sampai ke daerah-daerah lain, termasuk Bogor," kata Dr Mochtar Nawir, tenaga ahli pertanian Bupati Bantaeng.
Dalam mengembangkan talas, Nurdin membangun laboratorium kultus jaringan di Bantaeng. Ini merupakan laboratorium kultur jaringan satu-satunya di Indonesia. Laboratorium ini dibangun lewat kerjasama dengan Biotrop Bogor, untuk memproduksi benih talas.
Tak sampai di situ, Bantaeng juga memiliki pabrik pupuk untuk memenuhi kebutuhan pertaniannya. Pabrik pupuk ini merupakan kerjasama Pemkab Bantaeng dengan BPPT.
Dalam produksi beras, Nurdin Abdullah juga berhasil mengubah dari minus menjadi surplus. Tahun 2013 lalu, produksi beras di Bantaeng surplus sebanyak 21 persen. Atas prestasi ini, Nurdin Abdullah diganjar penghargaan oleh Presiden SBY.
Saat ini Bantang menjadi contoh-contoh bagi daerah lain, untuk mengembangkan sektor pertaniannya.
Untuk membangun pertanian di Bantaeng dalam mewujudkan swasembada pangan, Nurdin Abdullah menetapkan 8 pilar:
- Mewujudkan kabupaten benih berbasis teknologi
- Mengamankan dan mencapai swasembada pangan
- Meningkatkan kesejahteraan petani
- Mencegah alih fungsi lahan
- Terobosan pemasaran hasil pertanian
- Penanganan pasca panen (pengembangan pengolahan hasil)
- Perbaikan dan Pembangunan infrastruktur pertanian
- Regulasi yang berpihak kepada petani
Berikut profil Nurdin Abdullah
Nama Lengkap : Prof. DR. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M.Agr
Tanggal Lahir : 07 Februari 1963
Nama Istri/Suami : Listiaty Fachruddin
Riwayat Pendidikan
- S1, Universitas Hasanuddin, Pertanian dan Kehutanan , 1986
- S2, Kyushu University Jepang , Master of Agriculture , 1991
- S3, Kyushu University Jepang , Doktor of Agriculture, 1994
Riwayat Pekerjaan
- Dosen Fakultas Kehutanan , Universitas Hasanuddin,
- Presiden Direktur , PT. Maruki Internasional Indonesia,
- President Director, Global Seafood Japan,
- Bupati Bantaeng, 2008 - 2012
- Bupati Bantaeng, 2012 - Sekarang
Riwayat Organisasi
- Wakil Ketua, APKASI
Prestasi
- 4 piala Adipura berturut-turut
- Innovative Government Award (IGA) yang diadakan Kementerian Dalam Negeri - 2013










































