"Di negara berkembang, seperti kita, juga mengalami kondisi penurunan. Penyebabnya harga komoditas turun secara langsung berdampak," kata Agus di Hotel JW Marriott, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (6/11/2014).
Perekonomian negara-negara maju, lanjut Agus, memang mulai membaik. Namun sejauh ini belum ada perbaikan yang berarti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari dalam negeri, juga ada faktor risiko yang bisa memperlambat laju perekonomian yaitu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Kebijakan ini dipastikan akan diterapkan November 2014.
Namun, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyebutkan kebijakan tersebut tidak akan mengganggu terlalu mempengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi tahun ini.
"Kita kan ngomongnya kalau ada perubahan BBM kan 1,5 bulan terakhir. Jadi saya pikir dampaknya belum terlalu kelihatan lah. Kalau ada, tidak terlalu besar," ujar Bambang di kantornya, Jakarta, Kamis (6/11/2014).
Kenaikan harga BBM, lanjut Bambang, memang menyebabkan inflasi yang bisa melemahkan daya beli masyarakay. Namun dampaknya tidak akan terlalu besar pada tahun ini.
"Inflasi pasti akan terjadi. Tapi bagaimana kita mengatasinya, kita jaga inflasi," katanya.
Bambang memperkirakan ekonomi Indonesia bisa tumbuh di atas 5% pada tahun ini, meski ada kenaikan harga BBM. "Kita berharap di kuartal IV itu akan lebih baik sehingga pertumbuhan tahunan bisa 5,2%," sebut Bambang.
Faktor pendorong pertumbuhan ekonomi, tambah Bambang, adalah investasi. Investor yang sebelumnya wait and see karena agenda pemilu kemungkinan akan mulai merealisasikan investasinya.
"Apalagi Pak Jokowi sangat semangat untuk mendatangkan investasi. Meski sangat awal, tapi mudah-mudahan investasi dan konsumsi pemerintah dapat menolong di pertumbuhan kuartal IV," jelasnya.
(mkl/hds)











































