Mendag Gobel: Petani Pilih Jadi Buruh Pabrik karena Dapat Gaji Lebih Besar

Mendag Gobel: Petani Pilih Jadi Buruh Pabrik karena Dapat Gaji Lebih Besar

- detikFinance
Senin, 01 Des 2014 23:01 WIB
Mendag Gobel: Petani Pilih Jadi Buruh Pabrik karena Dapat Gaji Lebih Besar
Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel mengungkapkan kedaulatan pangan Indonesia berpotensi terganggu. Alasannya para petani Indonesia tidak memperoleh kepastian soal pendapatan, sehingga kini banyak di antara mereka yang hijrah menjadi buruh pabrik atau ke sektor industri.

Menjadi buruh, para petani bisa memperoleh pendapatan yang terukur dan pasti. Sedangkan menjadi petani punya penghasilan yang lebih rendah, dan tak punya kepastian penghasilan.

"Petani Indonesia punya lahan pertanian rata-rata 300 meter persegi, di luar negeri bisa punya 1 hektar. Nggak bisa disalahkan karena mereka nggak punya kepastian income. Akhirnya mereka pilih jadi buruh pabrik karena dapat gaji lebih besar," kata Rachmat kepada pengusaha saat acara perpisahan Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi, di Permata Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (1/12/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Rachmat, kondisi ini tidak bisa dibiarkan terus menerus. Bila produksi pangan menurun, beropotensi besar memicu impor pangan. "Kalau pindah semua, Mentan (menteri pertanian) pusing. Kita pangan lemah. Kita bisa ketergantungan impor. Nanti selalu berantem di antara kita," ujarnya.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan menggandeng Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk meningkatkan standar produk-produk impor masuk ke Indonesia.

Tujuannya untuk melindungi konsumen Indonesia dari produk impor yang tidak aman. "Ke depan, Kemendag akan kontrol barang-barang impor masuk ke Indonesia. Kita perkuat standar industri dan labelisasi," jelasnya.

Hasil Sensus Pertanian terbaru oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan jumlah rumah tangga di sektor pertanian. BPS mencatat jumlah rumah tangga usaha pertanian sebanyak 26,13 juta atau menurun 5,04 juta rumah tangga dibandingkan tahun lalu sebanyak 31,17 juta rumah tangga sejak 10 tahun terakhir.




(feb/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads