Pria yang bisa disapa Ahok mengatakan terkadang ada godaan bagi pengusaha yang merangkap jabatan sebagai politikus atau pejabat atau sebaliknya. Bila ini terjadi akan menimbulkan distorsi dan persaingan tidak sehat.
"Memang kita tergoda sebagai pengusaha begini. Kenapa kita nggak merangkap jadi pejabat juga? Kita bisa mengembangkan bisnis kita, DPD, DPR-RI, bupati wali kota, kita juga bisnis. Menurut saya itu tidak etis. Kita akan menyebabkan persaingan yang berbahaya," kata Ahok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ahok menyebutkan, pejabat punya wewenang penuh untuk hal bisnis yang punya keterkaitan dengan jabatan yang dimilikinya. Namun itu hal yang berpotensi menimbulkan kecurangan, dan tak bisa dibenarkan. Sehingga pengusaha-pengusaha lain akan kalah bersaing.
"Kalian tidak mungkin lawan saya kalau saya juga berbisnis. Saya penguasa dan pengusaha. Susah lawan saya. Model ini nggak bisa kita lakukan," tuturnya.
Ia mencontohkan soal pengalamannya yang menjabat orang nomor satu di DKI Jakarta, bisa saja bekerja sambil berbisnis, namun hal ini ia tidak lakukan.
"Kalau saya jadi pengusaha, celaka. Parkir meter, daripada kasih orang, saya makan aja sendiri. Pakai perusahaan saya. Ngapain saya kasih orang. Itu distorsi. Jadi daya saing saya keunggulan comparative saya belum tentu benar," katanya.
Selain itu, Ahok juga menyindir oknum-oknum politikus yang memanfaatkan wewenangnya untuk usaha yang dimilikinya.
β"Jujur aja sekarang lebih banyak oknum politisi yang pengecut. Mau bisnis kalah bersaing gitu mau bersaing di bisnis nggak bisa digunakan injek kaki. Itu nggak bisa," tegas Ahok.
(zul/hen)











































