Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia Dadi Sudiana mengatakan bila cabai ditanam sepanjang tahun dan pasokan stabil, maka akan membuat harga juga stabil sepanjang tahun. Sehingga tak membuat fenomena harga 'roller coaster'Β yang bisa naik turun tak terkendali.
Dadi mengungkapkan ada 3 masalah yang membuat harga cabai saat ini seperti 'Roller Coaster', yaitu persoalan produktivitas lahan cabai yang rendah, pola tanam yang kacau, dan tata niaga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang ini produktivitas kita jelek," katanya.
Untuk membenahi produktivitas cabai, Dadi berharap pemerintah memberikan dukungan berupa bibit berkualitas, pupuk yang baik dan tepat waktu, sistem irigasi yang baik, termasuk ketersedian air yang ada sepanjang tahun. Bila langkah-langkah ini dipenuhi, maka produksi cabai bisa terjadi sepanjang tahun tanpa terpengaruh musim.
Kedua, persoalan pola tanam yang selama ini para petani sudah nyaman dengan penggunaan pestisida untuk memberantas hama. Hama cabai salah satu penyebab produksi cabai terganggu. Namun penggunaan pestisida yang berlebihan justru membuat hama makin kebal terhadap pestisida.
"Sejak puluhan tahun, saat ini sudah 20 kali lipat kadar pestisidanya karena sudah kebal, juga tambah biaya yang lebih mahal," katanya.
Menurut Dadi, para petani cabai harus mendapat pendampingan dari pemerintah soal pengenalan teknologi pertanian dalam mengatasi hama dan penyakit cabai yang tepat. "Harus hadir pemerintah mendampingi petani," katanya.
Ketiga, soal tata niaga terkait pembentukan harga cabai. Selama ini rantai harga cabai di dalam negeri cukup panjang. Ia mengilustrasikan bila harga cabai di petani hanya Rp 10.000, maka di pedagang menjualnya bisa mencapai Rp 30.000/Kg. Selain itu, pemerintah tak boleh sekalipun membuka kran impor cabai.
"Jangan ada impor cabai segar atau olahan, jangan ada impor," serunya.
(hen/hds)











































