Menurutnya meski pasar modal dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh sampai Naik 22,29% hingga penutupan perdagangan 2014 namun angka ini tidak sejalan dengan kontribusi pasar modal terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkisar 5%.
JK menilai keuntungan pasar modal justru dinikmati oleh kalangan pemilik modal sehingga dampaknya tidak besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Ia menyebutkan pasar riil seperti Pasar Tanah Abang (Jakarta Pusat) hingga Pasar Klewer (Solo) lebih bermanfaat dan terasa dampaknya daripada pasar modal terhadap perekonomian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini, JK menilai nilai riil perdagangan di pasar modal kurang mengambarkan nilai sebenarnya, karena praktik 'goreng-goreng' saham sehingga nilai produk pasar modal melonjak terlalu tinggi.
"Ada seorang beli ikan kaleng. Beli jual lebih tinggi. Ikan kaleng itu dibuka dan ternyata busuk. Memang ikan kaleng itu bukan untuk dimakan. Ini dipoles-poles tapi produktivitas rendah. Itulah pasar modal," jelasnya.
Ia meminta investor dan emiten agar memanfaatkan keuntungan di pasar modal untuk ditanamkan kembali di Indonesia.
"Jangan capital gain dipakai investasi di luar. Jangan hasil di sini disimpan di Singapura dan Hong Kong. Investasi di sini agar munculkan pekerjaan baru. Ini beri harapan baru. Indeks naik lagi," jelasnya.
(feb/hen)











































