ExxonMobil Baru Berkomitmen Beri 3 Kargo Gas ke AAF
Kamis, 27 Jan 2005 14:15 WIB
Jakarta - Niat pemerintah membuka kembali pabrik pupuk PT Asean Aceh Fertilizer (AAF) ternyata kurang didukung terpenuhinya pasokan gas. Hingga kini pihak PT ExxonMobil Oil Indonesia baru menyetujui pasokan 3 kargo dari 12 kargo yang dijanjikan.Meneg BUMN Sogiharto sebelumnya menyatakan pemerintah menjamin 12 kargo gas itu pasti akan diberikan untuk menghidupi AAF juga sekaligus menyediakan gas untuk PT Pupuk Iskandar Muda I (PIM I) dan PT PIM II. Janji pemerintah itu disambut baik oleh Ketua Serikat Pekerja AAF Marwan Yahya. Namun Yahya masih khawatir karena yang sudah dipastikan hanya sebanyak 3 kargo saja. "Sesungguhnya yang sudah pasti 3 kargo saja. 3 kargo gas itu untuk 6 bulan produksi untuk satu pabrik sedangkan 9 kargo masih diperjuangakan dan belum pasti," kata Marwan di Lhokseumawe beberapa waktu lalu.Marwan khawatir, 9 kargo yang masih diupayakan itu akan sulit direalisasikan. Hal itu wajar, karena sebelumnya gara-gara tak ada pasokan gas AAF kemudian berhenti berproduksi."Karena ini menyangkut Exxon dan bukan hanya pemerintah Indonesia. Kita tahu Exxon punya wewenang dan kekuasaan yang besar terhadap gas. Exxon tetap menginginkan kompensasi dimana harga yang dibayar sama seperti mereka menjual gas keluar negeri," ujar Marwan."Selisih harga itu siapa yang tanggung? Kalau masuk situasi ini pasti semuanya pusing," katanya. Saat ini dia hanya berharap janji pemerintah itu benar-benar terealisasi. Memang, katanya, pemerintah telah menjanjikan. "Kebijakan dari pemerintah memang sudah ada. Tapi aplikasi secara teknis harus dibuktikan. Dan saat ini baru 3 kargo saja," imbuhnya. Jatah 3 kargo itu, hanya untuk operasional selama 6 bulan saja untuk tahun 2005.Rencananya, kata Marwan, sisa 9 kargo itu akan diupayakan dengan systemswap. Artinya pasokan akan akan diambil dari Bontang.Cara lainnya yakni, dengan reshceduling ekspor untuk Jepang dan Korea. Untuk hal ini Jepang dan Korea sudah setuju. "Bukan hanya 9 kargo, Jepang sudah setuju 50 kargo lebih. Karena dia punya pasar lain yang lebih murah di Rusia, karena gas sekarang sudah murah," ungkapnya. Sementara, Indonesia paling mahal gasnya.Sebenarnya, kebutuhan untuk menghidupkan PIM I, PIM II dan AAF semuanya bukan 12 kargo tapi 18 kargo per tahun. Dimana masing-masing PIM I, PIM II dan AAF membutuhkan 6 kargo. Tapi yang hanya akan dipenuhi janjinya hanya 12 kargo."Itupun cuma 3 kargo yang pasti, sisanya 9 kargo masih dalam negosiasi," kata Marwan. Dengan kondisi ini tentunya akan ada pabrik yang harus tutup.Komitmen pemerintah untuk memberikan 12 kargo gas ini, dipastikan oleh Menneg BUMN Sugiharto. Namun Sugiharto menyatakan, 12 kargo gas yang dijanjikan akan diberikan secara bertahap. "12 kargo dilakukan bertahap. Sudah ada keputusan dari Menko Perekonomian, yang siap untuk menyediakan 12 kargo. Jangan berspekulasi dulu kita masih punya berapa bulan untuk melakukan negosiasi lagi," kata Soegiharto saat berkunjung ke pabrik PIM di Lhokseumawe beberapa waktu lalu.Sugiharto menyatakan, dengan ketersediaan 12 kargo itu maka produksi pupuk PIM 1, PIM 2 dan AFF akan dapat direalisasikan. "PIM 1 pada 13 Januari lalu sudah bisa dibuka kembali kapasitasnya produksdinya 570 ribu ton dengan 83 persen kapasitas jalan. PIM2 juga akan dihidupkan pada Maret dan AAF juga akan dibuka kembali," tandasnya.Menurut Sugiharto, jika ketiga pabrik ini hidup kembali maka sebanyak 9.900 karyawannya akan dapat menerima gaji dalam 12 bulan mendatang. "AAF yang berhenti operasinya sejak 2003 lalu bisa hidup kembali. Karena kalau tidak bulan Februari ini mereka sudah kehabisan uang untuk membayar gaji," kata Sugiharto.Dengan beroperasinya PIM kembali, kata Sugiharto, maka PIM akan dapat meminjamkan dananya untuk gaji AAF untuk Maret, April dan Mei. "Nantinya pada bulan Juni dan Juli AAF akan membayar gajinya sendiri setelah beroperasi. Mereka akan hidup dan membayar utangnya kepada PIM I. Ini tolong menolong," kata Sugiharto.Harga yang dibayar pun, kata Sugiharto, tidak terlalu rendah yakni sebesar US$ 2,3 per mmbtu (million metres british thermal unit). "Sementara masih banyak power plant harganya dibawah US$ 2,3 per mmbtu. Jadi harganya cukup reasonable," katanya. Hal itu dikatakan Sugiharto, karena ada pandangan Exxon enggan menjual gasnya ke dalam negeri karena harganya yang murah dibandingkan harga ekspor. "Makanya supaya efisien operasi dipegang oleh satu komando yakni oleh PIM," katanya. Sugiharto menyatakan, pihaknya berniat untuk mendesain ulang industri pupuk nasional dengan cara melakukan defersivikasi produk sehingga menghasilkan income yang lebih. Dengan demikian secara bertahap menghilangkan subsidi gasnya. "Alangkah indahnya jika disparitas harga gas lokal dengan luar negeri bisa diperkecil sehingga penyelundupan atau abuse of distribution pupuk di Indonesia bisa diperkecil," katanya.
(qom/)











































