Bos Pelindo II Pamer Proyek Tol Laut dan Pelabuhan Sorong

Laporan dari Australia

Bos Pelindo II Pamer Proyek Tol Laut dan Pelabuhan Sorong

- detikFinance
Selasa, 03 Mar 2015 13:11 WIB
Bos Pelindo II Pamer Proyek Tol Laut dan Pelabuhan Sorong
Foto: Maikel Jefriando
Townsville - Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino melanjutkan kunjungannya di Townsville dengan menemui kalangan dunia usaha setempat. Lino memaparkan perkembangan ekonomi Indonesia secara umum, hingga kebijakan pemerintah dalam jangka pendek dan menengah.

Hadir dalam agenda ini sekitar 25 orang pengusaha, yang merupakan bagian dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Townsville. Termasuk Ketua Umum Stephen Motti dan CEO Port of Townsville Patrick Brady.

Lino menuturkan, dalam kurun waktu 15 tahun mendatang, Indonesia diproyeksi akan menjadi negara ketujuh terbesar di dunia. Dengan jumlah kelas menengah sebanyak 135 juta orang, dan mayoritas populasi berada di perkotaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bayangkan akan sebesar apa ekonomi Indonesia, dan potensi dari perdagangan yang bisa dimanfaatkan," ujar Lino di Rydges Hotel, Townsville, Selasa (3/3/2015).

Pemerintahan baru akan mendorong proyeksi tersebut direalisasikan. Upaya terbesar adalah dengan melakukan reformasi pada komponen subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang selama ini porsinya besar di APBN.

Reformasi tersebut dengan mengalihkan anggaran subsidi tersebut untuk pembangunan infrastruktur yang menjadi kebutuhan masyarakat luas. Nilainya diketahui mencapai Rp 200 triliun, ditambah beberapa kebijakan lainnya.

"Pemerintah mencabut subsidi untuk premium untuk bangun infrastruktur," sebutnya.

Kebijakannya tidak berhenti di sana. Karena ada permasalahan besar yang membuat perdagangan di Indonesia tidak efisien, yaitu biaya logistik. Sehingga diciptakanlah tol laut yang menyambungkan ujung barat ke timur Indonesia.

"Banyak orang berpikir tol itu adalah jalan. Tapi bukan. Tol ini di laut yang terhubung dengan pelabuhan-pelabuhan besar di setiap pulau," kata Lino.

Pelabuhan yang nantinya terkait dengan Australia adalah Sorong. Dibangun di atas lahan 7500 hektar, Sorong akan menjadi tempat persinggahan strategis bagi kapal-kapal Australia. Khususnya dari utara dan selatan Australia.

Saat beroperasi pada 2017, diharapkan kapasitasnya akan mencapai 700.000 TEUs. Kualitasnya dipastikan akan bertaraf dunia. Baik dari sisi produktivitas hingga pelayanan. Karena hal tersebut yang menentukan pelabuhan menjadi area yang layak untuk berlabuh.
β€Ž
Selama ini kapal barang dari pelabuhan Townsville, Australia yang menuju Tanjung Priok, Jakarta menghabiskan waktu selama 24 hari. Nantinya dengan pengalihan rute ke pelabuhan Sorong, maka hanya akan habiskan waktu kurang dari 10 hari.

"Kalau selama ini kapal dari Townsville ingin ke far east, maka harus turun ke Brisbane atau Sidney. Itu mahal sekali biayanya. Sekarang kalau melewati Sorong, pasti akan lebih murah, termasuk untuk ekspor ke Indonesia," jelasnya.

Usai paparan, pengusaha melakukan tanya jawab dengan Lino. Banyak yang tampak heran dengan rencana tersebut dan kemudian mempertanyakan bagaimana upaya merealisasikannya serta pihak-pihak yang mendukung pemerintah.

"Animonya tampak besar sekali, sebab mereka lihat ada oportunity besar sekali di Indonesia. Jadi mereka tinggal memilih apakah mereka akan investasi atau supply barang," terangnya.

(mkl/rrd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads