Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 05 Mar 2015 13:08 WIB

Dolar, Beras, Elpiji, BBM, Sampai Tol Naik

- detikFinance
Jakarta - Hari ini, dolar Amerika Serikat (AS) 'perkasa' terhadap rupiah dengan menembus level Rp 13.000. Dolar AS menjadi yang terkini mengalami kenaikan di pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Mengutip Reuters, Kamis (5/3/2015), dolar AS saat ini diperdangkan di posisi Rp 13.020. Dolar AS berada di posisi terkuat dalam 17 tahun terakhir.

Selain dolar AS, dalam beberapa waktu terakhir masyarakat Indonesia memang seakan sudah terbiasa dengan berita kenaikan. Sejumlah kenaikan yang mengundang perhatian adalah harga beras, harga Bahan Bakar Minyak (BBM), harga elpiji, sampai tarif tol.

Yang terakhir disebut memang belum naik. Namun mulai 1 April 2015, pemerintah akan memberlakukan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10% untuk transaksi di jalan tol. Artinya, tarif tol akan bertambah 10%.

Sementara harga beras, gejala kenaikannya mulai terendus jelang akhir Februari 2015. Kala itu, bahkan harga beras meroket 30% dalam seminggu di beberapa daerah.

Jokowi pun bertindak dengan menggelar Operasi Pasar (OP) beras. Hasilnya mulai terlihat, harga beras di pasaran mulai berangsur turun.

Sementara untuk BBM, kenaikan harga terjadi mulai 1 Maret 2015 untuk jenis Premium. Di luar Jawa-Madura-Bali, harga Premium naik dari Rp 6.600/liter menjadi Rp 6.800/liter. Sementara di Jawa-Madura-Bali, ada kenaikan harga Rp 100/liter menjadi Rp 6.900/liter.

Kemudian elpiji, ada kenaikan harga Rp 5.000 untuk elpiji tabung 12 kg menjadi Rp 134.000/tabung. Sedangkan untuk elpiji 3 kg, sempat terjadi kelangkaan yang menyebabkan harganya naik, menjadi di kisaran Rp 20.000/tabung.

Ada pula indikator ekonomi yang naik, tetapi ini lebih kepada kabar baik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa hari lalu terus naik dan mencetak rekor tertinggi. Bahkan IHSG sempat mendekati 5.500.

Meski ada cukup banyak kenaikan, bukan berarti tidak ada yang turun. Pemerintahan Jokowi juga berhasil membuat sejumlah indikator ekonomi turun, yang merupakan kabar baik.

Pertama adalah inflasi. Pemerintah mampu mengendalikan inflasi tetap rendah, bahkan terjadi deflasi 0,24% pada Januari 2015 dan 0,36% di Februari 2015.

Kedua, meski bukan oleh pemerintah, inflasi yang terkendali menyebabkan Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate dari 7,75% menjadi 7,5%. Sejumlah bank pun sudah mulai menurunkan bunga deposito dan kreditnya.

Kita berharap ada terobosan yang dilakukan pemerintah, sehingga harga-harga yang menyentuh langsung ke masyarakat bisa diredam.

(hds/dnl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com