Sore itu, Kamis (12/3/2015), sekitar pukul 16.00 WIB, suasana di pelabuhan Telaga Punggur, Batam cukup ramai. Pelabuhan berjarak 20 menit dari Bandara Hang Nadim, Batam ini melayani jasa penyeberangan domestik, menuju Tanjung Pinang dan Tanjung Uban dan Dabo Singkep.
Beberapa petugas dan otoritas pelabuhan tengah menunggu kedatangan Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan yang berlayar dari Tanjung Pinang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka berlarian namun tertib menunggu giliran masuk ke kapal yang berangkat setiap 15 menit sekali ini. Harga tiketnya, rata-rata Rp 50 ribu untuk satu kali perjalanan.
"Sehari bisa 1.500 orang. Kalau hari libur bisa sampai 2.000 sampai 2.500 orang," kata Mangasi Panjaitan, Kasatker Telaga Punggur ditemui di lokasi.
Sayangnya, kondisi pelabuhan yang beroperasi pukul 06.00 WIB sampai 18.00 WIB ini tak begitu baik. Sudah 22 tahun sejak dibangun tahun 1993, pelabuhan ini tak pernah direnovasi.
Kondisi kios-kios yang berdesakan, kepulan asap rokok para penumpang atau pengunjung yang sekedar nongkrong menambah suasana kurang nyaman di pelabuhan ini.
"Kurang memadai, parkir saja sudah sangat penuh di sini," kata Mangasi.
Jangan berharap suasana sejuk karena tak ada pendingin ruangan di ruang tunggu, kecuali jika berada di ruang VIP. Ruang tunggu yang langsung berhadapan dengan dermaga ini dilengkapi 3-4 baris kursi memanjang sekitar 7-10 meter.
Di belakang ruang tunggu tersebut, βada beberapa kantin yang letaknya tepat di di sebelah kanan pintu masuk. Sementara loket tiket berada di pintu masuk. Alat pendeteksi barang dengan sistem X-ray pun hanya berfungsi sesekali saja. Terlihat orang yang membawa barang bawaan melenggang bebas masuk tanpa harus melewati metal detector.
"Itu karena sudah sore. Tapi biasanya jalan itu berfungsi. Petugas bea cukainya pun ada," tuturnya.
Tak lama, sekitar pukul 19.00 WIB, Jonan bersama Menteri Pariwisata Arief Yahya tiba bersama rombongan dan langsung menuju ruangan VIP. Di sana Jonan mendengarkan paparan mengenai pelabuhan berumur 22 tahun ini. Tak banyak kata yang terucap dari mantan Bos KAI ini, dia hanya serius mendengarkan.
Rencananya, pelabuhan ini bakal dirombak habis dengan anggaran APBN sebesar Rp 59 miliar dengan skema tahun jamak (multiyears). Saat ini, luas bangunan pelabuhan ini adalah 4.600 meter persegi (1 lantai).
Dalam 2 atau 3 tahun ke depan, pelabuhan akan dibangun 3 lantai, di mana lantai 1 adalah untuk terminal kedatangan, lantai 2 untuk keberangkatan, dan lantai 3 untuk bangunan komersial.
Jika telah selesai, diyakini tak akan ada lagi parkir kendaraan yang semrawut. Kapasitas parkir mobil yang awalnya muat untuk 300 kendaraan, akan diperbesar menjadi 500 kendaraan. Sementara motor yang tadinya 100 kendaraan akan ditambah kapasitasnya menjadi 200.
"Akan selesai 2 tahun ya?" tanya Jonan yang dibalas 'iya' oleh pihak otoritas pelabuhan setempat.
Telaga Punggur bukan satu-satunya pelabuhan yang perlu didandani. Keeskokan harinya, Jonan mengunjungi pelabuhan Sekupang, masih di Batam. Alangkah kagetnya Jonan melihat ketimpangan antara terminal domestik dan internasional.
Terminal domestik tak berbeda jauh dengan apa yang ada di Telaga Punggur, seperti terminal bus. Sementara terminal internasional, layaknya bandara moderen dengan interior yang baik dan rapi. Padahal, jaraknya bersebelahan.
"Kok beda banget?," tanya Jonan kaget.
Jonan memberi arahan agar rencana pembangunan terminal kedatangan bisa segera direalisasikan. β"Enggak boleh beda banget begitu," katanya.
Rencananya, βdengan anggaran Rp 60 miliar, operator pelabuhan BP Batam bakal mempercantik terminal yang melayani penyeberangan ke Tanjung Balai Karimum, Tanjung Batu juga Dumai agar sama dengan terminal internasional yang melayani penyeberangan ke Singapura.
"Belum ditender. Kira-kira 2 tahun selesai," kata Kepala BP Batam, Mustofa.
Diharapkan setelah pembangunan besar-besaran di sektor kepelabuhan ini, Batam akan semakin menarik untuk menjadi tujuan wisata dan tak akan kalah βdengan negara tetangga, Singapura.
(zul/ang)











































