Nasib Tukang Jahit Keliling Kini: Seharian Kerja Tapi Pulang Tanpa Uang

Nasib Tukang Jahit Keliling Kini: Seharian Kerja Tapi Pulang Tanpa Uang

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 06 Jan 2026 07:30 WIB
Nasib Tukang Jahit Keliling Kini: Seharian Kerja Tapi Pulang Tanpa Uang
Penjahit di Jakarta/Foto: Ignacio Geordy Oswaldo
Jakarta -

Di ruang sempit tepi jalan Kota Jakarta, para tukang jahit keliling duduk di bawah payung lusuh, dengan mesin tua beserta keahlian tangan, menggantungkan hidup dari setiap jahitan benang dan kain yang dibawa pelanggan. Hal ini seperti yang ada di tepi Jalan Raya Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Berdasarkan pantauan detikcom di lokasi, Senin (5/1/2026), terdapat 15 sepeda gerobak jahit keliling berjajar di sepanjang sisi Jalan Raya Jagakarsa mulai dari dekat Pasar Lenteng Agung hingga persimpangan dengan Jl. Jeruk Raya. Selain itu terlihat juga ada beberapa gerobak jahit lainnya yang tertutup terpal tanpa kehadiran tukang di dekatnya.

Antara satu penjahit dengan yang lain hanya berjarak beberapa meter, masing-masing menunggu pelanggan datang bawa pesanan jasa. Tak sedikit di antara mereka yang tengah bekerja menjahit pesanan pelanggan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tukang Jahit Keliling di JakartaTukang Jahit di Jakarta Foto: Ignacio Geordy Oswaldo

Tangan para tukang jahit bergerak cekatan mengarahkan kain ke mesin jahit tua di atas meja kayu sederhana. Di sampingnya berbagai alat jahit seperti meteran, gunting, benang, serta potongan kain tersimpan rapi.

Heri (33), penjahit keliling yang mangkal di Jl. Raya Jagakarsa dekat Pasar Lenteng Agung, telah 15 tahun menekuni profesi ini untuk bertahan hidup. Dari awalnya pada 2011 lalu saat dirinya hanya berkeliling dari rumah ke rumah, hingga kini ia hampir sepenuhnya mangkal di kawasan itu sejak 2019 silam.

ADVERTISEMENT

Meski begitu, menurut Heri saat ini tukang jahit keliling di kawasan itu semakin sepi orderan pelanggan. Terutama jika dibandingkan dengan sebelum pandemi pada 2020 lalu.

"Kalau dulu itu sehari bisa Rp 200.000-300.000, itu sehari. Sekarang sepi, paling sering Rp 50.000 sehari, kalau lagi ramai-ramainya baru bisa dapat Rp 200.000 itu sudah bagus banget. Malah kadang hampir nggak ada sama sekali," kata Heri saat ditemui detikcom, Senin (5/1/2026).

Ia mengatakan yang menjadi permasalahan adalah omzet sekitar Rp 50.000 sehari yang diterimanya merupakan pendapatan kotor. Di mana jumlah ini biasanya hanya cukup untuk biaya makan, minum, kopi, dan rokok selama sehari penuh ia bekerja.

"Kalau lagi sepi ya paling habis buat makan saja. Ya pulang kosong saja kalau sudah gitu. Namanya juga usaha kan, kadang suka nggak ketebak kapan ramai kapan sepi," ujarnya.

Masih Bisa Kirim Uang ke Kampung

Beruntung, meski omzet usaha turun drastis dari minimal Rp 200.000 per hari menjadi maksimal Rp 200.000 saat ramai-ramainya, Heri mengaku masih bisa mengirimkan dana ke kampung halaman untuk anak dan istri, meski tidak tentu.

Senada, penjahit keliling lain yang sudah mangkal di dekat Pasar Lenteng Agung sejak 8 tahun lalu, Lasmina (34), mengaku omzet usahanya saat ini sudah turun jauh jika dibandingkan dengan awal dirinya berusaha.

"Alhamdulillah suka dapat Rp 100.000-200.000. Kalau lagi sepi pernah itu nggak dapat duit, tapi itu jarang. Kalau lagi sepi ya Rp 50.000. Tapi ya jarang yang kaya gitu, Alhamdulillah ada saja, tetap ramai tapi nggak seramai dulu," terangnya.

Tukang Jahit Keliling di JakartaTukang Jahit Keliling di Jakarta Foto: Ignacio Geordy Oswaldo

Menurutnya omzet ini merupakan penghasilan kotor, belum termasuk biaya makan sehari-hari atau modal kecil-kecilan untuk membeli benang hingga oli mesin jahit saat habis.

"Jadi kayak diputar-putar saja gitu. Ya kalau hari ini lagi rame dari kemarin, kita simpan gitu. Kalau modal, kita kan beli benang, oli mesin, atau apa gitu kan pas lagi butuh saja, nggak kaya orang dagang ambil barang langsung banyak, jadi nggak ngitung juga keluar berapa," ucap Lasmina.

Meski sehari-hari dirinya cukup banyak mendapatkan pelanggan, namun Lasmina tetap merasa sulit untuk mengumpulkan dana. Terlebih setelah ditinggal suami sekitar satu setengah tahun lalu yang juga bekerja sebagai penjahit pakaian.

"Paling berat ya kalau lagi kumpulin duit buat bayar kontrakan, itu kan bisa sampai Rp 1 juta sebulan. Jadi kalau sudah dekat-dekat bayar kontrakan itu suka kejar target musti kumpulin berapa, kalau lagi sepi ya mau nggak mau kita suka puasa biar cukup," terangnya.

"Kalau dulu kan berdua sama suami, di sini juga mangkalnya, sebelah-sebelahan. Kalau itu kan masih dibagi dua uang buat bayar-bayar apa. Tapi ya Alhamdulillah masih ada saja rezeki mah, cukup buat sehari-hari, nggak utang lah istilahnya. Nggak mau saya utang sama tetangga atau saudara, barang Rp 100.000-200.000, belum tentu dikasih, diomongin iya, jadi ya sekarang puasa saja kita kalau sepi," ujar Lasmina lagi.

Tonton juga video "Tukang Jahit di Pekalongan Kaget Didatangi Petugas Pajak soal Transaksi Rp 2,9 M"

Halaman 2 dari 2
(igo/fdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads