Sandi Uno yang merupakan pendiri Grup Saratoga itu menceritakan berbagai kisah kegagalan dan kesuksesan dunia bisnis. Dia mendarat ke Banyuwangi dengan pesawat Garuda Indonesia, lalu sempat ikut melihat International Tour de Banyuwangi Ijen sebelum berbagi pengalaman dengan kaum muda di kabupaten di ujung timur Jawa itu.
"Satu yang harus diyakini adalah tidak ada jalan mudah untuk sukses. Tidak ada yang instan," ujar Sandi di depan anak-anak muda Banyuwangi dalam acara sharing session di Pendopo kabupaten, Kamis malam (7/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerja cerdas berarti kita harus mengalkulasi semua kemungkinan dan pandai melihat peluang. "Kompetisi bisnis kian ketat, kita harus lebih kreatif dan inovatif," ujarnya.
Lalu kerja tuntas menuntut seorang pengusaha untuk menyelesaikan pekerjaan. "Pekerjaan jangan hanya direncanakan, tapi dituntaskan," tegas Sandiaga.
Yang terakhir, kata dia, adalah kerja ikhlas yang berarti siap menerima apa pun konsekuensi atas pekerjaan yang telah dituntaskan.
"Kalau pun pembeli atau klien marah dengan kerja kita, ikhlas, jangan mengambinghitamkan orang lain. Terima sebagai pelajaran. Ikhlas menerima berapa pun hasil pekerjaan, lalu kembali bekerja dengan tekun. Dengan ikhlas langkah kita jadi enteng," ujar Sandiaga.
Sandiaga juga bercerita, kisah dia memulai bisnis sekitar 17 tahun lalu. Saat itu, dia baru saja dipecat dari posisi mapannya sebagai salah satu top executive perusahaan.
"Waktu itu seperti disambar geledek. Krisis moneter Asia datang, saya dipecat. Saya tak tahu harus berbuat apa. Saya mau melamar pekerjaan tapi kondisi ekonomi sangat sulit. Kalau saya melamar ke 10 perusahaan, yang nolak 20 perusahaan. Itu perumpamaan saking sulitnya ekonomi saat itu," cerita mantan ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) tersebut.
Pemecatan dirinya itulah yang menjadi titik balik Sandiaga. Bersama temannya, Sandiaga akhirnya memutuskan menekuni dunia bisnis menjadi seorang konsultan keuangan, manajemen, dan investasi.
Perlahan tapi pasti, bisnis Sandiaga pun akhirnya melebar ke mana-mana, mulai dari batu bara, otomotif, jasa, ritel, hingga transportasi dengan total lebih dari 30.000 karyawan.
"Saya menyimpulkan, satu kesuksesan dihasilkan dari satu keputusan berani. Tujuh belas tahun lalu saya belajar dari kegagalan. Kalau saya dulu tetap bergulat mencari pekerjaan, tentu ceritanya akan lain," kata dia.
(ang/ang)










































