Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengatakan memang masih ada harapan bagi Bulog untuk melakukan pengadaan secara maksimal pada musim panen kedua atau musim gaduh tahun ini. Namun ia mengakui, berdasarkan pengalaman sebagai mantan Dirut Bulog, menyerap beras petani di musim gaduh tak semudah saat panen pertama.
"Pengalaman kita akan lebih berat di musim gaduh, panennya sedikit, menjelang paceklik," kata Sutarto kepada detikFinance, Jumat (8/5/2015)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita mengandalkan besar-besar saja, akan terjadi kita akan dijatah oleh pengepul dan penggilingan. Pengalaman saya mereka cenderung menjatah ke Bulog," kata Sutarto.
Ia mengatakan para perusahaan penggilingan besar tentunya cenderung melepas ke pedagang atau ke pasar dengan harapan mendapatkan harga yang lebih bagus dari yang ditawarkan Bulog. Biasanya para petani juga melepas ke para tengkulak yang masih terkait dengan pemilik penggilingan skala besar.
"Makanya waktu saya dulu, harus langsung ke bawah, kerjasama dengan kelompok tani, penggilingan padi. Jadi pemasoknya lebih banyak," ujarnya.
Menurut Sutarto dengan sistem membeli langsung ke petani dengan 'jaringan semut' memang butuh banyak upaya keras, apalagi pola kebiasaan petani di masing-masing daerah berbeda-beda dalam menjual hasil panennya.
"Harus kejasama on farm, jadi bisa langsung negosiasi, kita bisa kerjasama dengan penggilingan, sebagai ke pasar sebagian ke Bulog, jaringan semut ada 170.000 penggilingan yang kecil yang menjadi banyak," katanya.
Sutarto menceritakan, pada masa dirinya sebagai Dirut Bulog, pernah ada skema kerjasama dengan kelompok tani, bank untuk memastikan Bulog bisa langsung membeli beras petani tanpa perantara. Misalnya dengan kerjasama di tingkat on farm, bila menggandengan petani dengan areal 1 juta hektar maka Bulog sudah dapat jaminan saat pembelian di musim panen.
"Kalau kita hanya mengandalkan penggilingan besar biasanya tak maksimal. Misalnya kita pesan, oh ya nanti kita kirim, tapi bisa saja mereka alasan lupa, karena mereka mengutamakan stok dia, karena harga yang mahal," katanya.
Selama ini, pengadaan beras oleh Bulog selain untuk menjaga stok beras juga sebagai cadangan beras pemerintah (CBP) untuk kegiatan darurat seperti operasi pasar hingga kondisi bencana. Selain itu, Bulog juga bisa melakukan pengadaan dalam rangka kepentingan bisnis komersial.
Presiden Jokowi menargetkan Bulog bisa menyerap beras petani 4 juta ton hingga 4,5 juta ton tahun ini untuk menjaga stok beras nasional. Namun realisasi pengadaan beras oleh Bulog sampai Mei baru mencapai 700.000 ton.
(hen/dnl)











































