Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan (Aher) mempertanyakan keputusan pemerintah pusat yang secara tiba-tiba membatalkan rencana pembangunan Pelabuhan Cilamaya, Karawang, Jawa Barat.
"Kita melihat Pelabuhan Cilamaya. Itu sudah dipersiapkan sekian tahun lamanya. Kan itu kemudian dibatalkan hanya dalam waktu singkat," kata Aher dalam acara pertemuan gubernur se-Indonesia dan di depan Kepala Bappenas Andrinof Chaniago, di kantor Bappenas, Jalan Taman Suropati, Jakarta, Senin (11/5/2015)
Menurut Aher, padahal kebutuhan industri untuk kegiatan ekspor impor itu sudah tak tertampung di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Padahal kemacetan di sekitar Jakarta sudah sangat parah akibat arus kendaraan yang bawa barang, sehingga butuh pelabuhan baru di Jawa Barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi pertanyaan Aher, Menteri PPN/Bappenas Andrinof Chaniago mengatakan meski ada perencanaan, proyek Pelabuhan Cilamaya perlu ada perbaikan. Ia beralasan, apalagi proyek ini disiapkan oleh konsultan swasta yang berorientasi bisnis.
"Perencanaan proyek itu tak bisa diserahkan pada konsultan swasta. Apalagi dalam hitungannya hanya bisnis. Tidak melihat dampak pada kawasan sekitar," katanya.
Ia menjelaskan, dalam 6 bulan ke depan persiapan pengganti lokasi Pelabuhan Cilamaya sudah ada hasilnya karena kriteria lokasi sebuah pelabuhan tak berbeda jauh. Menurutnya untuk membangun pelabuhan baru di Cilamaya sangat tak mungkin.
"Saya melihat langsung ke sana, memang berjejeran anjungan migas dan pipa itu. Harus diakui mengherankan, tapi untuk setelah bertemu itu maka harus cari solusi," katanya.
Awal April lalum Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) melakukan blusukan ke Karawang, Jawa Barat (Jabar). Dalam kesempatan tersebut JK memutuskan pembatalan proyek Pelabuhan Cilamaya di Karawang, Jawa Barat setelah melihat kondisi lokasi yang jadi calon pelabuhan berisiko terhadap fasilitas migas Pertamina.
(hen/rrd)










































